Beranda Bali News Agustus 2023, Kinerja Industri Jasa Keuangan Bali Stabil dan Kian Menguat

Agustus 2023, Kinerja Industri Jasa Keuangan Bali Stabil dan Kian Menguat

bvn/sar

KINERJA LJK BALI – Kepala OJK KR 8 Bali dan Nusa Tenggara Kristrianti Puji Rahayu bersama Ananda R. Mooy menggeber data terkait kinerja LJK Bali, Selasa (24/10/2023).

 

DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara menilai kinerja industri jasa keuangan (IJK) di Provinsi Bali posisi Agustus 2023 terjaga stabil dan terus menguat. Ini tercermin dari fungsi intermediasi yang berjalan baik serta didukung dengan risiko kredit yang terjaga.

Hal itu diungkapkan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara Kristrianti Puji Rahayu didampingi Ananda R. Mooy Direktur Pengawasan LJK, dan sejumlah pejabat OJK KR 8 lainnya dalam jumpa media bertajuk NGORTE (Ngopi Bersama Update Berita, di Kantor OJK KR 8 di bilangan Jalan Supratman Denpasar, Selasa (24/10/2023).

Data sektor perbankan Agustus 2023, ujar Kristrianti Puji Rahayu, menunjukkan penyaluran kredit maupun penghimpunan DPK mengalami pertumbuhan. Penyaluran kredit mencapai Rp102,00 triliun atau tumbuh 4,87 persen yoy lebih tinggi dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya yang 2,82 persen (Juli 2023: 4,39 persen yoy). “Penyaluran kredit bank umum di Bali Rp89,36 triliun atau tumbuh 4,91 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan posisi Juli 2023 yang sebesar 4,34 persen,” tegasnya.

Sementara itu, penyaluran kredit BPR posisi Agustus 2023 mencapai Rp12,64 triliun atau tumbuh 4,57 persen yoy, sedikit lebih rendah dibandingkan posisi Juli 2023 yang 4,78 persen. Peningkatan penyaluran kredit secara yoy ini selaras dengan meningkatnya aktivitas pariwisata serta sektor pendukung pariwisata di Bali.

Berdasarkan jenis penggunaannya, ungkapnya, pertumbuhan kredit yoy didorong oleh peningkatan nominal kredit investasi Rp2,82 triliun atau tumbuh 11,36 persen yoy (Juli 2023: 9,66 persen yoy). Tingginya pertumbuhan kredit investasi ini menggambarkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi di Bali.

Baca Juga  KPK RI Laksanakan Monev MCP di Pemkot Denpasar

Berdasarkan sektornya, ungkapnya, pertumbuhan kredit disumbangkan oleh peningkatan nominal penyaluran di sektor perdagangan besar dan eceran Rp1,20 triliun (tumbuh 5,14 persen yoy) serta sektor penerima kredit bukan lapangan Usaha Rp600 miliar (tumbuh 3,82 persen yoy). Berdasarkan kategori debitur, 52,74 persen kredit di Bali disalurkan kepada UMKM dengan pertumbuhan stabil sebesar 5,82 persen yoy (Juli 2023: 5,82 persen yoy).

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), katanya, mencapai Rp161,56 triliun atau tumbuh double digit yaitu 23,51 persen yoy tumbuh lebih tinggi dibandingkan SP 14/KR08/OJK/X/2023 posisi yang sama tahun sebelumnya 16,20 persen yoy. “Pertumbuhan DPK posisi Agustus 2023 sedikit lebih melandai dibandingkan posisi Juli 2023 yang tumbuh 23,81 persen yoy,” tegasnya.

Berdasarkan jenisnya, peningkatan DPK dibandingkan Agustus 2022 ditopang oleh kenaikan nominal tabungan Rp19,71 triliun dan giro Rp6,98 triliun. Fungsi intermediasi yang tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) posisi Agustus 2023 sebesar 63,13 persen (Juli: 64,41 persen). Rasio LDR yang termoderasi antara lain karena pertumbuhan penghimpunan DPK lebih tinggi dibandingkan penyaluran kredit.

Adapun kecukupan modal BPR yang tercermin pada likuiditas BPR (CR) dan capital adequacy ratio (CAR) terjaga di atas threshold, masing-masing 15,60 persen dan 31,56 persen. Tingginya permodalan perbankan diyakini mampu menyerap potensi risiko yang dihadapi dan OJK akan terus mendorong kinerja intermediasi dengan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan terjaganya likuiditas.

Kualitas kredit perbankan tetap terjaga yang tercermin dari penurunan rasio kredit
bermasalah atau non performing loan (NPL) gross 3,23 persen lebih rendah dibandingkan Juli 2023 yang sebesar 3,32 persen. Sementara itu NPL nett berada di posisi 1,64 persen menurun dibandingkan Juli 2023 yang sebesar 1,72 persen.

Baca Juga  Ny. Putri Koster Haturkan Terima Kasih untuk Kepedulian Ibu Negara terhadap Lingkungan dan Stunting

Restrukturisasi kredit terdampak covid-19 di Bali (berdasarkan lokasi proyek) terus melandai dari Rp45,80 triliun posisi Desember 2020 menjadi Rp22,76 triliun atau turun sebesar 50,30 persen posisi Agustus 2023 (Juli 2023: Rp24,64 triliun). Berdasarkan sektor ekonomi, restrukturisasi kredit covid-19 di Provinsi Bali didominasi oleh sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum (39,06 persen), sektor perdagangan besar dan eceran; reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor (22,84 persen), dan sektor Rumah Tangga (17,23 persen).

“Menurunnya jumlah kredit restrukturisasi juga mendorong penurunan rasio LaR menjadi 24,69 persen dari sebelumnya 25,73 persen pada Juli 2023. OJK akan terus mendukung perbankan melalui langkah kebijakan yang diperlukan sehingga perbankan terus bertumbuh berkelanjutan namun tetap prudent dalam aspek manajemen risiko,” ujarnya. (sar)

Hosting Indonesia