ist
Pura Sada Kapal.
MANGUPURA (BALIVIRALNEWS) –
Di Desa Kapal tepatnya di lingkungan Banjar Pemebetan, Pura Sada, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung secara turun- temurun masyarakat setempat dan sekitarnya telah mempercayai anugerah berupa minyak khususnya untuk penyembuhan luka bakar pada tubuh seseorang. Minyak tersebut oleh masyarakat setempat diberi nama “Minyak Kebus” yang kepatenan dalam menyembuhkan telah diyakini masyarakat sampai saat ini.
Tidak pernah tahu dari tahun berapa Minyak Kebus tersebut ada di Pura Sada karena secara turun- temurun sudah diketahui minyak kebus berada di Pura Sada yang di-sungsung oleh Desa Adat Kapal.
“Orang-orang sekitar menyebutnya dengan Minyak Kebus, secara keyakinan terdahulu Minyak Kebus ini jauh lebih paten daripada minyak kimiawi. Ini dapat dibuktikan, bila orang-orang dari Desa Kapal ada terluka (luka bakar) mereka nunas minyak kebus di Pura Sada. Hanya dengan mengoleskan pada bagian luka dan hasilnya memang manjur,” jelas Bendesa Adat Kapal, I Ketut Sudarsana, Rabu (2/3) di desa setempat.
Adapun keunikan dari minyak ini adalah bila ada terkena luka bakar, orang tersebut harus nunas langsung ke Pura Sada. Jika minyak tersebut tersisa dan akan diberikan kepada orang lain yang terluka, minyak tersebut tidak berefek lagi.
“Bahkan dulu pernah ada yang terkena air aki di sekujur badan, setelah dioles Minyak Kebus ini sekarang sembuh dan tidak berbekas,” katanya.
Bagi krama yang ingin tangkil menurut dirinya, cukup membawa sesaji sangat sederhana dapat dikatakan seikhlas dan semampu dari orang yang nunas minyak seperti, pejati dan canang sari. “Nunas pelugraan minyak tersebut tidak memilih hari baik, karena ada saja nunas minyak ini pada hari-hari tertentu,” cetusnya.
Dirinya sempat mencoba membuat minyak tersebut dengan proses yang sama namun tidak ada efeknya. Minyak tersebut hanya dapat diproses di Pura Sada dengan memperhitungkan rerahinan seperti Budha Kliwon Uwudan. “Karena, jenis kelapa yang sangat langka dipakai, kita sampai mencari ke berbagai daerah sehingga Minyak Kebus tidak pernah habis,” katanya.
Minyak tersebut sebenarnya bersumber dari kelapa hanya kelapa digunakan dari berbagai jenis kelapa seperti, dari kelapa bulan, kelapa rangda, kelapa gading, kelapa macan, kelapa udang dan berbagai jenis kelapa hingga berjumlah 21 jenis kelapa. Kemudian diproses secara tradisional serta dalam memprosesnya harus mencari hari baik setelah selesai kemudian minyak dipasupati di Pura Sada. Sudarsana menambahkan, orang yang tangkil datang dari beberapa daerah di Bali mulai dari daerah Buleleng, Negara bahkan ada juga dari daerah Karangasem. (bvn4)









































