Beranda Badung News Atasi Kendala Perpipaan, Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung Buka Peluang Kerja...

Atasi Kendala Perpipaan, Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung Buka Peluang Kerja Sama

bvn/sar

GATHERING – Dirut Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung Wayan Suyasa didampingi Dirtek Made Suarsa menggelar gathering Galungan dan Kuningan dengan media, Jumat (23/2/2024).

 

MANGUPURA (BALIVIRALNEWS) –

Perumda Air Minum Tirta Mangutama Kabupaten Badung memastikan pemanfaatan air minum di kalangan hotel mulai bertambah. Hal ini karena ada ketentuan izin yang ketat ketika akan menggunakan air bawah tanah (ABT) serta ada syarat penggunaan air PDAM ketika akan memperpanjang izin hotel.

Hal tersebut diungkapkan Dirut Perumda Air Minum Tirta Mangutama Kabupaten Badung Wayan Suyasa didampingi Dirtek Made Suarsa saat Gathering Hari Raya Galungan dan Kuningan dengan puluhan wartawan media cetak, elektronik dan wartawan media online di sebuah hotel di bilangan Legian, Kuta, Jumat (23/2/2024). “Pemanfaatan air di kalangan hotel meningkat pesat,” ujarnya lagi.

Saat ini, katanya, justru PDAM yang belum mampu memenuhi permintaan kalangan hotel. Buktinya, dulu pihaknya mengirim air 500 liter per detik, sekarang melonjak menjadi 600 liter per detik. Hotel pun banyak meminta tambahan suplai air, tetapi PDAM masih mengalami kendala perpipaan ketika ingin melayani kalangan perhotelan secara maksimal.

Ditanya stategi apa yang akan dilakukan untuk menangani persoalan perpipaan, Suyasa menyatakan, kalau ingin langsung berinvestasi, PDAM harus berhitung. Jika memang menguntungkan, baru bisa dilakukan. Jika tidak untung, tentu saja akan menjadi temuan. Karena itu, pihaknya akan membuka kesempatan kerja sama dengan pihak ketiga untuk menanggulangi persoalan perpipaan yang ada. “Yang penting veasible dari segi hukum, teknik dan ekonomi, kita akan jalan,” tegasnya.

Karena itu, Suyasa mengakui pendapatan PDAM dari tahun ke tahun bertambah. Dia menunjuk tahun 2021, pendapatan PDAM hanya Rp 1,3 miliar, tahun 2022 mencapai Rp 16,4 miliar, dan tahun 2023 melonjak menjadi Rp 46 miliar namun belum diaudit. Penyetotan ke kas daerah biasanya 55 persen dari keuntungan yang diperoleh. Namun semuanya tergantung pimpinan daerah, bisa saja keuntungan itu dikembalikan untuk investasi dalam rangka meningkatkan pelayanan air minum kepada pelanggan baik untuk masyarakat maupun pelanggan-pelanggan bisnis.

Baca Juga  Minta Masyarakat Disiplin Prokes, Presiden Jokowi Berbincang dengan Dokter Paru

Ditanya mengenai air siap minum yang diperoduksi Perumda Air Minum Tirta Mangutama Kabupaten Badung di Estuary Dam Kuta dengan teknologi terbaru bio membran, Suyasa menyatakan tak menjamin air siap minum hingga di pelanggan. “Kami tak jamin air siap minum hingga di pelanggan karena kendala jaringan,” ujarnya.

Suyasa memaparkan, air produksi Estuari Dam yang siap minum dialirkan ke selatan seperti Nusa Dua hingga Pecatu. Air yang terkirim sekarang ke selatan sekitar 600 liter per detik. Apakah air siap minum hingga di pelanggan, Suyasa menyatakan belum. Hal ini karena jaringan belum menjamin kehandalan terhadap air minum.

“Minum di sumber berani karena syarat-syarat permenkes sudah dilengkapi. Setelah di jaringan pun tetap ada pengecekan untuk memastikan tidak ada ecoli. Tetapi karena kendala jaringan, kami tak berani menjamin air siap minum hingga di pelanggan,” mantan anggota DPRD Badung tersebut.

Pada kesempatan itu, Suyasa juga memaparkan berbagai upaya yang dilakukan untuk menekan kebocoran air (NRW) sehingga tingkat kehilangan air mengalami penurunan. Pada 2020, tingkat kehilangan air mencapai 43,90 persen, 2021 mencapai 42,40, tahun 2022 mencapai 28,08, dan 2023 mencapai 36 persen. “Pada 2024, tingkat kehilangan air ditarget 34 persen,” tegasnya.

Untuk menurunkan tingkat kehilangan air, ujarnya, dilakukan dengan memaksimalkan unit kehilangan air. Mereka turun, menyisir secara fisik, di samping mencari titik-titik yang bermasalah dan mencari kebocoran yang kelihatan di got-got. Ini dilakukan di titik-titik yang airnya banyak hilang. Langkah kedua, percepatan penanganan kebocoran dengan target satu hari selesai. Bocor, satu hari selesai.

Langkah ke depan, kata Suyasa, ada beberapa titik jaringan yang sangat bermnasalah yakni di puspem. Pembangunan yang terlalu sering, pipa PDAM juga terganggu. “Maka di puspem, kami akan ganti pipa-pipanya karena itu juga indikasi kebocoran agak banyak. Jadi tahun ini akan diganti jaringan tersebut, dan diharapkan bisa mengurangi kebocoran,” ujarnya.

Baca Juga  Tingkatkan Inklusi dan Literasi Keuangan Milenial, Badung Gelar "Talkshow" dan "Launching" Agen Muda Melek Investasi

Langkah berikutnya dengan pengadaan reservoar. Dengan adanya reservoar di puspem, maka di daerah Dalung dan sekitarnya tidak lagi dengan pemompaan secara langsung. “Kalau sudah ada reservoar, airnya dari sumber seperti Belusung masuk ke reservoar dan dari reservoar menggunakan grafitasi. Tak hanya memperkecil kehilangan air, penggunaan listrik pun bisa berkurang,” tegas Wayan Suyasa. (sar)