bvn/sar
WOLBHACIA – Wakil Rektor I Unud Prof. Dr. Ir. I Gede Rai Maya Temaja, MP, IPU memimpin Suasana press conference mengenai efektivitas wolbhacia , Kamis (29/11/2023).
DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –
Saat ini terjadi pro kontra di masyarakat terkait penanggulangan demam berdarah dengue (DBD) dengan nyamuk berwolbhacia. Untuk memberikan kajian akdemis, Universitas Udayana pun menggelar seminar dengan menghadirkan narasumber berkompeten seperti Prof. Cameron Simmon dari Kemeskes RI dilakukan secara online, dr. Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D dari UGM Yogyakarta, Dr. Sang Gede Purnama SKM, M.Sc, dr. Putu Ayu Asri Damayanti, S.Ked, M.Kes, Prof. Dr. drh. GN Kade Mahardika, serta Prof. dr. Pande Putu Januraga M.Kes. Dr.PH. dari Unud.
Saat membuka sesi press conference usai seminar, Wakil Rektor I Prof. Dr. Ir. I Gede Rai Maya Temaja, MP, IPU menyatakan, kasus DB ini tak pernah putus. “Ini tentu memerlukan biaya penanggulangan yang tidak sedikit. Karena itu, Unud melakukan kajian akademik terhadap penanggulangan DB inovasi baru melalui nyamuk berwolbhacia. Kita Universitas Udayana mengumpulkan para ahli untuk memberikan kajian akademis,” tegasnya.
Unud, katanya, sudah secara cepat membentuk kelompok kerja keahlian beragam. Ada yang mikro biologi, epidemiologi, teknologi, parasitologi, ahli serangga, biologi, dan ahli hukum. “Poinnya saatnya Unud harus berperan penting dalam kajian teknologi atau inovasi baru dalam pengendalian DBD terutama dari nyamuk berwolbhacia,” katanya.
Saat ditanya, rekomendasi apa yang akan dikeluarkan Unud setelah melakukan seminar maupun penelitian lapangan terkait wolbhacia ini. Terus apa tanggapan terkait belum ada payung hukum untuk melakukan uji coba nyamuk berwolbhacia ini.
Menurut Prof. Pande Putu Januraga, kita memiliki poin yang jelas terkait potensi manfaat wolbhacia dari seminar ini. Akademisi sudah mengulas dan punya manfaat yang besar. “Kita akan rugi jika kita kehilangan atau melewatkan pemanfaatan teknologi ini untuk penanggulangan DB. Tetapi kita juga mengerti soal adopsi inovasi atau teknologi diperlukan penerimaan dari masyarakat,” ungkapnya.
Dia mencontohkan di UGM, sosialisasi yang masif, kerja sama lintas sektor diperlukan untuk membuat inovasi ini diterima dan berjalan. “Rekomendasi Unud berkaitan dengan hal tersebut dilihat dari dua aspek. Pertama berkaitan dengan regulasi, memang memerlukan kerja sama dari pemerintah pusat dan daerah. Bentuknya bisa macam-macam bisa SK atau surat edaran. “Apa pun bentuknya yang isinya pemerintah pusat mendukung implementasi wolbhacia di Bali dan kemudian pemda menyetujui untuk melaksanakannya,” katanya.
Selanjutnya mengenai efektivitas nyamuk berwolbhacia dalama memberantas DBD, ujar Riris Andono Ahmad, sudah sangat terbukti. Berdasarkan uji coba, efektivitasnya sangat beragam. Ada yang seratus persen, ada yang 80 persen tergantung jumlah populasinya.
Bagaimana membuktikan bahwa tereliminasinya DBD itu karena nyamuk Wolbhacia? Ini berdasarkan sampel antara daerah yang menggunakan wolbhacia dengan daerah yang tidak menggunakan. “Saat menggunakan wolbhacia, kasus DBD bisa turun hingga 80 persen,” katanya.
Poinnya, Unud bisa mengambil peran sebagai tim pengkaji di sana. Yang kedua, Unud memiliki akademisi, fasilitas, pengalaman dalam pengelolaan, lab dan lain-lain, kami kira Unud bisa berperan lebih banyak. Terkait aspek keamanan kemudian jangka panjang dan dampak ke depan sama seperti UGM.
“Soal belum ada payung hukum, Unud akan mendorong bahwa semuanya harus ada payung hukum. Kami akan mengawal ini dengan memberikan hasil kajian-kajian secara ilmiah,” tambah Prof. dr. Pande Putu Januraga M.Kes. Dr.PH. (sar)









































