Beranda Another Region News Ditopang “High Season” Pariwisata, Optimisme Penjualan Eceran Tetap Kuat

Ditopang “High Season” Pariwisata, Optimisme Penjualan Eceran Tetap Kuat

bvn/hmbi

Kepala BI Provinsi Bali Achris Sarwani

 

DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –

Indeks Penjualan Riil (IPR) Provinsi Bali tetap kuat sebesar 126,4 dan masih berada di level optimis (>100). Kinerja tersebut meningkat 0,5% (mtm), terutama didorong oleh meningkatnya penjualan pada kategori barang budaya dan rekreasi 2,2% (mtm), makanan, minuman dan tembakau 2,0% (mtm), serta barang lainnya 0,5% (mtm).

Menurut rilis yang diterima media ini, Jumat (21/8/2026), Kepala BI Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan, penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama periode libur sekolah serta persiapan berbagai aktivitas pariwisata yang berlangsung pada musim wisata pertengahan tahun. “Kinerja penjualan eceran yang tetap kuat juga sejalan dengan membaiknya fundamental perekonomian Bali,” ujarnya.

Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 tercatat 5,78% (yoy), didukung oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas sektor pariwisata yang tetap kuat, sehingga turut menopang kinerja perdagangan dan penjualan eceran di Bali.

Kinerja penjualan eceran pada Juli 2026 diprakirakan tetap kuat. Hal ini tercermin dari IPR Juli 2026 diprakirakan tumbuh 128,7, atau meningkat 1,8% (mtm), ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori sandang, makanan, minuman, dan tembakau, serta barang budaya dan rekreasi.

Perkembangan tersebut sejalan dengan tetap kuatnya permintaan masyarakat memasuki periode ajaran baru serta momentum high season. Sementara itu, ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu September 2026 dan Desember 2026 diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) September 2026 dan Desember 2026 masing-masing 192 dan 200.

Sementara itu, inflasi Bali pada Juli 2026 tercatat 2,42% (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia 2,5±1%. Inflasi yang tetap terkendali tersebut mendukung terjaganya daya beli masyarakat sehingga memberikan ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk tetap tumbuh dan menopang aktivitas perdagangan eceran.

Baca Juga  Terima Kunja DPRD Kota Yogyakarta, Wabup Suiasa Sebut 85 Persen Warga Badung sudah Tervaksin

Optimisme pelaku usaha tetap terjaga sebagaimana tercermin pada Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang berada di level optimis (>100). IEP enam bulan mendatang (Desember 2026) meningkat menjadi 198 dari 190 pada survei sebelumnya. Sementara itu, IEP tiga bulan mendatang (September 2026) tercatat 184, sedikit lebih rendah dibandingkan ekspektasi Agustus 2026 sebesar 190.

Meskipun mengalami moderasi jangka pendek, pelaku usaha tetap meyakini prospek penjualan ritel Bali akan meningkat, terutama didukung aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga yang masih kuat. Keyakinan pelaku usaha tersebut turut didukung oleh pertumbuhan kredit lapangan usaha perdagangan yang hingga Juni 2026 tercatat tumbuh 1,47% (yoy).

Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate 5,75%, suku bunga Deposit Facility 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga (pro stability) sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth).

Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali akan terus memperkuat implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) guna mencapai inflasi yang stabil dan terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan mendukung perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (sar/hmbi)