sar
MENDEM PEDAGINGAN – Ketua DPRD Badung mendem pedagingan di salah satu pelinggih di Pura Dalem Desa Adat Semanik, Desa Pelaga, Petang, Selasa (12/8/2025).
MANGUPURA (BALIVIRALNEWS) –
Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti didampingi Wakil Ketua DPRD Badung Made Sunarta menghadiri rangkaian Karya Mepedudusan, Ngenteg Linggih, Mupuk Pedagingan, dan Walik Sumpah Utama Menyama Raja di Pura Dalem Desa Adat Semanik, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Selasa (12/8/2025). Pada kesempatan tersebut, Ketua DPRD Badung mendem pedagingan di salah satu pelinggih di pura tersebut.
Acara tersebut juga dihadiri Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan Wabup Bagus Alit Sucipta, serta anggota DPRD Badung. Di antaranyanya Bima Nata, Nyoman Satria, Nyoman Gede Wiradana, Gede Budi Yoga, dan Made Ponda Wirawan.
Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti memberikan apresiasi kepada masyarakat atas terselenggaranya upacara di Pura Dalem, Desa Adat Semanik. Kehadiran pemerintah daerah dalam proses pembangunan pura dinilai mampu meringankan beban masyarakat, sekaligus menjaga keseimbangan alam dan pelestarian budaya Bali.
“Ya tentu sebagai Dewan, kami sangat memberikan apresiasi kepada masyarakat setempat. Memang kewajiban kita sebagai umat Hindu dalam melaksanakan niatnya itu harus tulus ikhlas. Memang di sebuah desa itu harus ada minimal Kahyangan Tiga sebagai keseimbangan keharmonisan alam,” ujarnya.
Ia menambahkan, upacara ini diharapkan mampu menciptakan vibrasi positif yang dapat mengayomi masyarakat. “Kemudian harapan kita ya tentu, setelah dilakukan upacara ini, vibrasi positif, mampu mengayomi krama, mampu mengayomi umat, selanjutnya yang paling penting sekarang adalah masyarakat tidak lagi memikirkan yang namanya urunan untuk membangun sebuah pura, karena pemerintah daerah sudah hadir,” jelasnya.
Dengan adanya dukungan pemerintah, ia berharap masyarakat bisa fokus pada pengembangan ekonomi. “Ke depannya kita berharap bahwa masyarakat lebih fokus pada pengupejiwa-nya (pendapatan) untuk mencari penghidupan yang layak. Nah, ini merupakan salah satu untuk menjaga taksu Bali,” imbuhnya.
Menurutnya, taksu Bali memiliki keterkaitan erat dengan sektor pariwisata di Badung. Semakin besar ketulusan dan keikhlasan masyarakat, ia yakin hasilnya akan semakin baik. “Saya percaya bahwa semakin besar kita beryadnya dengan ketulusan, dengan keikhlasan, maka hasilnya semakin baik bagi masyarakat Badung,” ujarnya.
Bendesa Adat Semanik I Gusti Lanang Umbara menjelaskan, upacara ini memiliki makna spiritual yang sangat tinggi. “Merupakan dasar bakti kita representasikan dalam yadnya, ini yadnya paling tinggi tingkatannya minimal dilaksanakan 35 tahun sekali. Sarana dan prasarana yang digunakan adalah wewalungan atau binatang yang digunakan dalam upakara, seperti kebo, kambing, anjing belang bungkem, bebek, dan lainnya selain sarana prasarana banten,” jelasnya.
Lanang Umbara yang juga anggota DPRD Badung menambahkan, upacara ini juga berkaitan dengan pemugaran bangunan Pura Dalem serta penataan Pura Prajapati Desa Semanik. “Upacara awal telah dilakukan Melaspas, Mendem Pedagingang. Kita di Desa Adat Semanik sudah lebih dari 35 tahun baru sekarang melaksanakan upakara sebesar ini hingga menjadi rangkaian dari tawur,” imbuhnya.
Persiapan upacara telah dimulai sejak 6 Juni 2025. Warga bergotong royong ngayah hingga puncak acara 22 Agustus, yang ditutup dengan prosesi Ngeruak Setra. Desa Adat Semanik yang terdiri atas satu banjar dan beranggotakan 145 kepala keluarga adat menjadi pengempon pura. Terkait pembiayaan, pemugaran dan penataan pura menelan biaya sekitar Rp 11 miliar, sedangkan upakara sebesar Rp 2,5 miliar.
“Selain pemerintah, ada juga partisipasi krama adat. Kami percaya selain bantuan pemerintah, kami juga urunan yang kami sebut tata atur bakti. Jadi kewajiban kami yang merupakan ketulusan dari upakara yadnya,” pungkasnya. (sar)









































