bvn/sar
MEDIA BRIEFING – Media briefing digelar serangkaian AIS Forum 2023 dan WWF 2024 di BNDCC Nusa Dua, Rabu (9/8/2023).
MANGUPURA (BALIVIRALNEWS) –
Dua event internasional yakni Archipelagic and Island State (AIS) Forum yang melibatkan 51 negara dan 10th World Water Forum (WWF) yang melibatkan 172 negara akan digelar di Bali pada September 2023 dan Mei 2024 mendatang. Hal tersebut diungkapkan Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI Septriana Tangkary saat media briefing di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Rabu (9/8/2023).
Selain Septriana Tangkary, media briefing tersebut juga dihadiri Penasihat Khusus Menko Marves Bidang Komunikasi dan Media Ezki Tri Rezeki, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika RI Usman Kansong, dan Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Ekonomi dan Investasi Dadang Rukmana. Acara ini juga dihadiri puluhan wartawan dari berbagai media baik cetak, elektronik, maupun media online.

Septriana Tangkary
Menurut Septriana Tangkary, AIS Forum merupakan wadah kerja sama negara pulau dan kepulauan yang beranggotakan 51 negara. Forum ini, tegasnya, untuk mengatasi masalah global terutama di empat area utama. Keempatnya adalah area perubahan iklim, area blue economy, area polusi sampah plastik di laut, serta area tata kelola maritim. “Selain itu, forum ini juga untuk mengklarifikasi isu-isu negatif yang ada,” tegasnya.
Soal clemate change misalnya, ujarnya, tidak sekadar suhu memanas tetapi dampaknya sudah sangat masif. Beberapa negara tenggelam, interusi air laut terjadi sehingga sejumlah negara tidak memiliki air tawar. Untuk polusi sampah plasti di laut, ujarnya, menjadi masalah hampir semua negara. Ini dipastikan akan merusak ekosistem laut dan berdampak buruk bagi sektor pariwisata. “Jika tanpa upaya dan tindakan yang keras, pada 2050, jumlah sampah plastik akan lebih besar dari jumlah ikan di laut,” ujarnya.
Untuk blue economy, tegasnya, akan memberikan edukasi kepada masyarakat misalnya penguatan ekonomi di kalangan nelayan. Bagaimana budi daya ikan sehingga mampu meningkatkan perekonomian kalangan nelayan. Misalnya dengan pembuatan keramba terapung yang sudah dilakukan sejumlah negara.
Sementara untuk WWF, kata Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Ekonomi dan Investasi Dadang Rukmana, akan digelar pada 18-24 Mei 2024 yang akan diikuti oleh utusan dari 172 negara. Forum ini, ujarnya, merupakan pertemuan internasional terbesar yang membahas persoalan air dan melibatkan stakeholder yang berhubungan dengan air, baik pemerintah, swasta, dan pihak-pihak lainnya.
Menurutnya, ada tiga fase yang akan dilakukan yakni fase persiapan meliputi kebijakan aksi bersama, selanjutnya menyediakan platform dan isu terkini soal air, dan terakhir mitigasi terhadap bencana air. “Forum ini tak sekadar pertemuan biasa tetapi mengidentifikasi masalah serta melakukan aksi-aksi nyata terhadap persoalan air,” tegasnya.
Mitigasi bencana akibat air, tegasnya, akan dilakukan melalui solusi infrastruktur dengan pembuatan bendungan. Dengan adanya bendungan, kelebihan air saat musim hujan bisa ditampung sehingga tidak menimbulkan bencana. Demikian juga saat musim panas, air di bendungan akan menjadi cadangan air bagi masyaraklat.
Selain infrastruktur, mitigasi bencana juga dilakukan dengan solusi budaya. Kongkretnya, masyarakat harus sadar dan patuh terhadap aturan dan kearifan lokal yang ada. “Misalnya jangan membangun di wilayah tangkapan atau resapan air. Jika ini dilanggar, tentu akan menimbulkan bencana,” tegasnya. (sar)






































