bvn/sar
KOORDINASI KEHUMASAN – Kepala BBKHIT Bali Heri Yuwono, APi, SPi, MP (tiga dari kiri) didampingi pejabat BBKHIT lainnya di acara koordinasi kehumasan yang menghadirkan puluhan media lokal dan nasional, Rabu (24/12/2025).
DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –
Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BBKHIT) Provinsi Bali, Rabu (24/12/2025) menggelar koordinasi kehumasan dengan media lokal dan nasional. Acara yang digelar di Kantor BBKHIT di bilangan Pedungan Denpasar tersebut dihadiri sedikitnya 46 wartawan dari media lokal dan nasional.
Koordinasi kehumasan tersebut dihadiri Kepala BBKHIT Bali Heri Yuwono, APi, SPi. MP didampingi sejumlah pejabat lainnya beserta staf. Sejumlah topik pun dibahas di antaranya capaian yang diraih BBKHIT Bali sepanjang tahun 2025.
Terkait dengan capaian ekspor produk-produk pertanian Bali, ujar Heri Yuwono, BBKHIT Bali mendorong keberterimaan produk hewan, ikan dan tumbuhan Indonesia di pasar global. “Selain itu kami juga memberikan pendampingan dan bimbingan teknis kepada calon eksportir serta memberikan sertifikasi karantina sebagai persyaratan ekspor dan impor,” ujarnya.
Sejak Januari hingga November 2025, katanya, nilai ekspor komoditas karantina Bali menembus angka Rp 4,07 triliun yang berasal dari produk hewan, ikan, dan tumbuhan. Ekspor hewan berasal dari telur tetas, kulit ular kering, cow leather, dry butterfly dan lain-lain untuk tujuan ekspor seperti Uni Emirat Arab, Timor Leste, dan Perancis.
Selanjutnya ekspor dari ikan meliputi benih bandeng, kerapu konsumsi, benih kerapu, tuna, ikan hias, cangkang kerang, dan cumi-cumi. “Tujuan ekspornya meliputi Filipina, Taiwan, China, Singapura, Australia, Malaysia, Amerika Serikat, Jerman, Hongkong, Thailand, Jepang dan Vietnam,” tegasnya.
Terakhir ekspor dari tumbuhan, ujarnya, meliputi produk bunga potong, buah manggis, vanili, daun pakis, biji kopi dan lain-lain. Negara tujuan ekspornya meliputi Timor Leste, China, Amerika Serikat, Jerman, dan Belanda.
Ditanya soal keamanan pisang cavendis yang dikembangbiakkan dengan rekayasa genetika yang membuat konsumen bertanya-tanya terkait dampak kesehatan warga yang mengkonsumsinya, Heri Yuwono menyatakan, rekayasa genetika terhadap pisang cavendis dilakukan sebagai upaya meningkatkan daya tahan pisang serta kualitas buahnya.
Menurutnya, dengan rekayasa genetika, pisang cavendis menjadi lebih tahan lama serta kualitasnya menjadi lebih meningkat. “Rekayasa genetika di pisang cavendis tak ada kaitannya dengan kesehatan konsumen, hanya meningkatkan daya tahan dan kualitas pisang,” ujarnya lagi.
Pada kesempatan itu, Heri Yuwono juga memaparkan hasil tangkapan sepanjang tahun 2025. Pihaknya melakukan penahanan sebanyak 82 kali, 119 kali penolakan dan 21 kali pemusnahan. “Dari tangkapan tersebut, belum ada yang sampai kepada penegakan hukum,” tegasnya. (sar)









































