sar
NARASUMBER – Capbul BI Bali, Selasa (22/6) menampilkan narasumber yakni Deputi Kepala BI Bali Rizki Ernadi Wimanda dan Prof. Dr. IB Raka Suardana SE, MM.
DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –
Ke depan, perekonomian Bali tak boleh hanya bertumpu kepada sektor pariwisata. Perekonomian Bali harus mulai bertransformasi jika tidak ingin mengalami pertumbuhan negatif hingga -12 persen seperti sekarang ini ketika pandemi covid-19 menyerang dunia.
Hal ini diungkapkan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undiknas University Prof. Dr. IB Raka Suardana SE, M.M. pada acara Capacity Building (Capbul) Media yang digelar Kantor Perwakilan BI Bali di Denpasar, Selasa (22/6). Narasumber lain yang tampil dalam Capbul tersebut yakni Deputi Kepala Perwakilan BI Bali Rizki Ernadi Wimanda.
Menurut Raka Suardana, keseimbangan lama di Bali, perekonomian bergeser pada sektor pariwisata dan industri kerajinan karena lebih menguntungkan dari sisi finansial. “Karena itu, tenaga pertanian berkurang hingga 35 persen,” katanya.
Bertumpu pada sektor pariwisata, ujar Raka Suardana, Bali sangat rentan terhadap aneka guncangan. Misalnya guncangan bom Bali 2002, bom Bali 2005, meletusnya Gunung Agung pada 2017 dan terakhir serangan pandemi covid-19 pada 2019 hingga kini. Keseimbangan lama ini, tegasnya, terjadi pada para era 1990 hingga 2020.
Karena itu, Raka Suardana memberikan alternatif agar Bali menjalankan keseimbangnan baru yakni ekonomi Bali tak hanya bertumpu pada sektor pariwisata, tetapi perlu digali juga sektor potensial lainnya. Sejumlah sektor yang berpeluang digali yakni sektor pertanian modern, industri kreatif, refocusing pariwisata, pendidikan, dan digital payment.
Sektor pertanian berpeluang karena 6 kabupaten di Bali menjadikan pertanian sebagai sektor terbesar. Seperti Jembrana, Tabanan, Buleleng, Bangli, Karangasem dan Klungkung. Walau menjadi peluang bagi Bali, ujar Raka Suardana, sektor pertanian masih menyimpan sejumlah kendala untuk bisa menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi Bali. Di antaranya maindset pertanian itu kotor sehingga generasi muda nyaris tak mau melirik sektor ini, selanjutnya rata-rata kepemilikan lahan pertanian hanya 30 are.
Tak hanya di sana, ujarnya, kendala lainnya berupa tak ada industri pascapanen. Pada saat panen raya, harga salak Karangasem misalnya, sangat rendah. “Kendala lainnya berupa kompetensi anak-anak Bali mulai berubah, ketersediaan air berkurang serta persoalan lingkungan sebagai dampak penggunaan pestisida dan pupuk kimia,” ujarnya.
Untuk sektor ekonomi kreatif di Bali, ungkap Raka Suardana, didukung dengan share ekonomi kreatif meningkat dari 13,8 pada menjadi 14,2 persen pada 2017-2020. Dukungan lainnya karena Denpasar ditetapkan sebagai kota kreatif pada 2019 oleh Bekraf RI dan Gianyar ditetapkan sebagai kota kerajinan dunia oleh WCC-APR. Walau begitu, ujarnya, tetap saja masih mengalami kendala. Kendala yang paling menonjol adalah pengemasan. “Ada produk bagus namun belum bisa dipasarkan dengan baik karena pengemasannya masih belum layak,” ujarnya.
Sementara peluang di sektor pendidikan, ungkap Raka Suardana, dapat menjadi potensi sumber peningkatan ekspor jasa. Ini didukung oleh potensi demand, dukungan regulasi dalam negeri, potensi Bali dan dampak ekonomi. Potensi ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Bali karena Bali bisa menjadi kota pendidikan seperti halnya Yogyakarta, Malang maupun Bandung. Cuma untuk saat ini, ketika institusi pendidikan luar bisa masuk ke Bali, tentu saja institusi pendidikan lokal harus berbenah sehingga tidak ditinggalkan.
Di tengah berbagai kendala di atas, sektor pertanian paling memungkinkan digarap dalam waktu dekat. Minimal untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat di Bali. Peluang lainnya juga muncul dari sektor kelautan dan perkebunan khususnya untuk komoditi vanili, coklat, kopi dan buah manggis.
Sementara Deputi Kepala Perwakilan BI Bali Rizki Wimanda menyebutkan, prinsip dasar kebijakan moneter yang menjadi kewenangan BI yakni mengelola kegiatan ekonomi dari sisi permintaan dalam rangka mengurangi “fluktuasi” kegiatan ekonomi. Di antaranya mendorong pemulihan ekonomi pada saat
resesi melalui kebijakan moneter ekspansif, serta menjaga agar ekonomi tidak mengalami pemanasan atau overheating melalui
kebijakan moneter kontraktif.
Saat ditanya suku bunga kredit masih bertengger di dua digit sementara BI Repo Rate (BI 7DRR) di angka 3,5 persen, Rizki Ernadi Wimanda menyatakan, BI repo rate dan suku bunga kredit perbankan sangat terkait. Karena itu, BI meluncurkan SDBK dan bank-bank BUMN sudah menurunkan target marginnya. Komponennya margin adalah pokok (biaya deposito dan tabungan) dan premi risiko. “Bank-bank kecil dengan risiko tinggi masih tetap mengenakan suku bunga tinggi,” katanya.
Editor N. Sarmawa









































