bvn/hmden
PELATIHAN BANTEN – Wakil Ketua WHDI Kota Denpasar Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa dan Penasihat WHDI Kota Denpasar yang sekaligus Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Denpasar Ny. Ida Ayu Widnyani Wiradana pada pelatihan banten, di Banjar Batu Mas, Kelurahan Dangin Puri, Jumat (31/10).
DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –
Pemerintah Kota Denpasar bersama Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Denpasar kembali menggelar pelatihan pembuatan banten dengan materi Banten Otonan Ayaban Tumpeng Pitu di Balai Banjar Batu Mas, Kelurahan Dangin Puri, Jumat (31/10). Pelatihan yang diikuti ibu-ibu PKK dan didampingi narasumber dari WHDI Kota Denpasar ini bertujuan agar pembuatan banten Otonan Ayaban Tumpeng Pitu ini dapat dilaksanakan secara mandiri.
Dalam kesempatan tersebut hadir Wakil Ketua WHDI Kota Denpasar Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, dan Penasihat WHDI Kota Denpasar yang juga Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Denpasar, Ny. Ida Ayu Widnyani Wiradana.
Pada kesempatan itu, Wakil Ketua WHDI Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa menyebut, pelatihan pembuatan Banten Otonan Ayaban Tumpeng Pitu yang difasilitasi Pemkot Denpasar untuk masyarakat ini dilaksanakan berkelanjutan. Hal ini lantaran jenis banten otonan ini sangat dibutuhkan setiap enam bulan sekali dalam memperingati hari kelahiran secara agama Hindu.
“Pelatihan pembuatan banten ini dikhususkan pada pembuatan Banten Otonan Ayaban Tumpeng Pitu. Hal ini agar para peserta yang mayoritas kaum ibu ini paham tidak saja cara membuat banten, tapi juga pengaplikasiannya serta filosofi dari banten tersebut sesuai dengan sastra agama Hindu. Tentu saja dengan bimbingan narasumber berpengalaman dari WHDI,” ujar Ny. Ayu Kristi.
Narasumber pelatihan banten dari WHDI Denpasar Ni Wayan Sukerti menjelaskan, materi yang diajarkan dalam pelatihan membuat banten kali ini adalah Banten Otonan Ayaban Tumpeng Pitu. Banten ini terdiri atas “Ulun Banten” yakni Pejati, Gebogan, Pengambean, Peras Soda, dapetan Pokok, dan juga terdiri dari Sesayut (Sesayut Pebersihan, Sesayut Sida Purna, Sesayut Pageh Urip) dan Tebasan Pemiak Kala, juga Segehan Manca Warna, Bayakaonan dan Prayascita.
“Pelatihan ini juga sekaligus akan menjelaskan filosofi dari masing-masing komponen banten tersebut serta tata cara pengaplikasian dalam upacara otonan itu,” jelasnya.
Ditambahkan Sukerti, pelatihan banten kepada masyarakat ini merupakan program rutin tahunan sekaligus menjadi media saling bertukar pikiran dan pengetahuan tentang pembuatan banten. “Pelatihan pembuatan banten ini juga sebagai media saling bertukar pikiran dan berbagi pengetahuan tentang pembuatan Banten,” ucap Sukerti.
Salah satu peserta pelatihan, Wayan Sudiani, menyambut baik dilaksanakannya pelatihan membuat Banten di lingkungannya. “Kegiatan ini sangat membantu kami ibu-ibu untuk semakin memahami tata cara pembuatan Banten dan pengaplikasiannya dalam upacara. Kita di Bali tidak pernah terlepas dari kegiatan keagamaan,” ungkapnya. (wes/hmden)








































