Beranda Another Region News “Tri Hita Karana” Dalam Pesona Wisata Desa Adat Kelecung

“Tri Hita Karana” Dalam Pesona Wisata Desa Adat Kelecung

ist

DAYA TARIK – Sunset menjadi salah satu daya tarik wisata di Desa Adat Kelecung.

 

TABANAN (BALIVIRALNEWS) –

Wisata Desa Adat Kelecung belakangan mulai diminati wisatawan ternyata memiliki pijakan pengembangan pariwisata dengan konsep Tri Hita Karana. Sebuah konsep kearifan lokal Bali didasari atas prinsip keharmonisan.

“Kita bersyukur dianugerahi alam yang indah. Warga adat yang ramah, memiliki budaya yang sangat unik dan cantik. Semuanya ini warisan leluhur yang menyatu dalam konsep Tri Hita Karana. Tinggal kita punya komitmen melestarikan itu,” terang Ni Made Ariani selaku Ketua Sahaja Sawah Foundation di Desa Adat Kelecung, Desa Tegal Mengkeb, Selemadeg Timur, Tabanan Bali, Senin (7/6/2021).

Tenaga kebersihan pun siaga.

Ni Made Ariani yang juga pemilik Villa Sahaja Sawah ini mengaku, untuk memberi edukasi konsep adi luhung Tri Hita Karana dalam implementasi pariwisata dikatakan tidak mudah. Dibutuhkan kerja sama semua pihak secara berkesinambungan. Tidak saja dari warga adat tapi juga keseriusan pemerintah mendukung program pariwisata.

“Bagaimana hubungan dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dengan alam. Mudah-mudahan niki (ini) di Desa Tegel Mengkeb khususnya di Kelecung, keasrian alamnya tetap terjaga. Itu salah satu selling point-nya kita. Karena masih sepi, masih asri, masih bersih, itu yang kita jaga dan masih hijau. Itu yang dicari dari tamu-tamu kita yang rata-rata dari Eropa,” ujarnya.

“Sunsetnya luar biasa, iya. Karena boleh dibilang dari jalur pantai sekitar sini, kita punya spot yang paling bagus. Karena ada tebing yang menonjol itu, dipadukan dengan sunset yang bulat dan alam sekitarnya yang masih hijau, apalagi waktu air laut sedang surut, itu bagus sekali karena kelihatan karang-karangnya,” papar Aryani.

Baca Juga  TP PKK Provinsi Bali Gelar Webinar "Hidup Sehat dan Bahagia di Masa Tua"

Komitmen pihaknya menggandeng Desa Adat Kelecung melalui yayasan menjaga alam sebagai inspirasi di desanya. Didukung dari suaminya seorang bule kini sudah menjadi Hindu. Tidak saja bergerak menjaga lingkungan, yayasan dikelola Ariani juga berupaya menjaga tempat ibadah seperti perbaikan pura, infrastruktur jalan, penghijauan dan sanggar anak. Sedangkan hubungan dengan kemanusiaan pihaknya selalu membantu warga adat dalam kekurangan. Yayasan ini pun melakukan kegiatan bedah rumah.

“Satu contoh kecil bagaimana kita bisa tetap menjaga keberlangsungan sawah sementara air kurang. Tentu perlu dicarikan solusi bersama dengan pemerintah. Begitu juga kita selalu bilang alam kita bersih dan alami sementara sepanjang jalan dan pantai sampah berserakan. Untuk itu perlu upaya kesadaran bersama,” singgungnya.

Ariani mengatakan, dari yayasan sendiri punya staf khusus mengurus kebersihan pantai Kelecung. “Untuk penataan ke depan, tentu harus kerja sama dengan semua pihak, dengan desa adat dan masyarakat. Tidak bisa kami sendiri. Kami berharap area kita ini tetap dijaga kelestariannya, tetap bersih terutama kan kita punya masalah terkait sampah,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Bandesa Adat Kelecung I Ketut Siada yang akrab disapa Guru Kartika bahwa desa adat tetap akan mempertahankan alam yang ada. Terkait untuk aturan pembangunan, ujarnya, sekarang ini desa adat sedang mengemas pararem (aturan adat). Ada juga disinggung aturan bagi investor yang akan masuk. Tetapi dikatakan bahwa aturan ini masih dalam proses dan belum disahkan.

“Salah satunya nanti setiap ada investor masuk akan diataur apa-apa saja yang boleh dilakukan termasuk dalam mendirikan bangunan, berapa tinggi bangunan yang diperbolehkan, spesifikasi bangunan dan lain sebagainya. Jadi mereka bisa masuk asalkan tetap bisa bekerja sama. Intinya desa biar tetap dihijaukan, tetap asri dan alami untuk anak cucu kami ke depan,” terang Bandesa Adat Kelecung.

Baca Juga  Raih WTP 9 Kali Berturut-Turut, Pemkot Denpasar Dapat Penghargaan Menteri Keuangan

Editor N. Sarmawa