bvn/sar
Wayan Puspa Negara
MANGUPURA (BALIVIRALNEWS) –
Perjalanan pariwisata Bali di tahun 2025 ternyata penuh fatamorgana dan dilema.
Semua terlena dengan jargon quality tourism, quality destination, tapi tidak berbuat apa apa. Hal tersebut diungkapkan anggota Komisi I DPRD Badung Wayan Puspa Negara kepada Baliviralnews.com, Kamis (1/1/2026).
Menurut Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Badung tersebut, Bali akan sulit bersaing. Hal ini karena formula untuk menata Bali belum terlihat, mulai persoalan sampah, macet, banjir, tata ruang yang amburadul, jaringan utilitas semrawut, kriminalitas meningkat, hingga lingkungan yang terdegradasi. Dia mengaku tidak ada gerakan spektakuler atau fundamental dalam melakukan problem solving atas situasi di atas.
Politisi Partai Gerindra asal Legian Kuta tersebut menyatakan, sepertinya Bali bergerak auto pilot dan ala bombom car tak ada lintasan, tak ada klakson, tak ada roda, tak ada kendali yang presisi, dan selalu bertabrakan.
“Kehadiran wisatawan domestik di pengujung tahun yang biasanya hingar-bingar mulai pertengahan Desember, kini terasa sepi, padahal musim peak season, Apa yg salah, saya mencoba memberi analisis dan tawaran solusi,” ujarnya.
Bahwa negara negara yang pariwisatanya tumbuh maju, memperkuat 4 pilar dasar untuk terciptanya sustainable tourism development (pembangunan pariwisata yang berkelanjutan). Empat pilar dasar itu adalah facilities, safety, service, environment, dan promotion.
Facilities, ungkapnya, bahasa sederhananya fasilitas yg meliputi infrastruktur, sarana prasarana, dan utilitas yang harusnya terbangun berskala dunia (world class infrastructure). Seperti jalan yang mulus dan lancar, pedestrian yang nyaman dan ramah, jaringan utilitas udara yang tertanam ke dalam tanah, pengelolaan sampah yang mantap, saluran air, listrik, gas, telepon, wifi, hingga limbah dan air kotor tertata aman. Selain itu, akomodasi, transportasi hingga aksesibilitas yang mudah dan efisien. Hal ini di Bali khusunya di Badung nyaris tak ada perkembangan berarti.
Hal kedua adalah safety & security, keamanan dan kenyamanan wisatawan sangat sering terganggu karena tingginya aksi aksi kriminalitas dan pelanggaran norma dan etika, serta gangguan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat yang sering terjadi. Aksi perilaku buruk wisman, sistem transportasi yang buruk memperparah kondisi keamanan dan kenyamanan ini. “Hal ini harus segera ditangani dengan pola pengamanan destinasi yang profesional, penegakan aturan yang tegas, stabil, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Hal ketiga adalah service/hospitality atau pelayanan. Bahwa muncul sindiran wisatawan tentang perbedaan perlakuan antara wisdom dan wisman, daya ramah yang mulai tereduksi hingga senyum yang tidak ikhlas, menjadi hal yang melemahkan pelayanan secara umum.
Hal keempat adalah environment atau lingkungan yang terjaga kualitas dan keberlanjutanya. Lingkungan kita mengalami penurunan performa dengan tingginya alih fungsi lahan, berkurangnya bidang resapan, hingga kacaunya tata ruang menjadikan ketidakteraturan dan kesemrawutan, banjir, bahkan sampah tak terkelola dg baik.
Hal kelima adalah promosi. Pariwisata tanpa promosi adalan nonsense, pariwisata harus terus dikabarkan secara stabil periodik dan berjelanjutan. Pariwisata tanpa promosi dipastikan lunglai seperti apa yang terjadi saat ini, bahwa publik relation/kehumasan kita tentang pariwisata/eksistensi Bali tidak menggema alias sangat lemah, tidak bergerak alias diam, unit teknis Dinas Pariwisata, stakeholdersnya seperti BTB, BPPD, seperti kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau.
Dia menyatakan, sepanjang tahun 2025 nyaris tak ada promosi sama sekali, baik dalam maupun luar negeri, unit teknis Disparda ketakukan dengan Perpres No. 1 Tahun 2025 tentang efisiensi, padahal sebagai destinasi pariwisata promosi wajib dilaksanakan.
“Kenapa Dinas Pariwisata tidak berani menganggarkan untuk promosi dalam dan luar negeri, padahal itu tupoksi premium mereka. Apakah mereka tak punya kapasitas dalam berpromosi sehingga menyerah tanpa berinovasi. Anggarannya pun mereka hilangkan sendiri, sungguh tidak profesional,” tegasnya.
Menurut Puspa Negara, harusnya promosi tetap dijalankam secara profesional dan bertanggungjawab. Pemprov Bali dan Kabupaten Badung harusnya tetap rajin mengikuti promosi wisata dunia yang terbesar dengan selektif, seperti apa yang pernah rutin dilakukan tahun-tahun sebelumya.
Promosi yang diperkuat dengan touchable & aproachement (sentuhan dan pendekatan) pada negar- negara kontributor wisman akan memberi dampak psikologis positif yang tinggi karena akan terjalin kerja sama dlm memberi pelayanan, pengayoman dan perlindungan bagi warga negaranya ketika menjadi turis di Bali. Artinya promosi bisa memperkuat hubungan kemitraan dan kepercayaan yang memunculkann kenyaman untuk terus berkunjung. “Oleh karena itu saya memyarankan Pemerintah Provinsi/Gubernur dan Bupati Badung untuk introspeksi dan berbenah segera di segala sektor termasuk wajib mengikuti promosi wisata premium dunia. Di antaranya Internationale Tourismus-Börse (ITB) Berlin, World Travel Market (WTM) London, Travel Expo di Sydney dan sebagainya. (sar)










































