bvn/sar
MFW9 DI BALI – Direktur Festival MFW9 Edo Wulia bersama Direktur Program MFW9 Fransiska Prihadi saat press conference MFW9 yang akan digelar di Bali, Selasa (5/9/2023).
DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –
Menginjak tahun ke-9, Minikino Film Week (MFW9), Bali International Short Film Festival, akan digelar pada 15-23 September 2023 mendatang di Bali. Rangkaian acara MFW9 tahun ini akan diselenggarakan dalam format hybrid secara luring dan daring. Seluruh pemutaran film dan diskusi diselenggarakan secara luring, sedangkan beberapa forum dalam short film market akan diselenggarakan secara daring untuk memberi akses lebih luas terhadap penonton publik, serta partisipan filmmaker dan pembicara yang tidak bisa hadir secara langsung.
Hal itu diungkapkan Direktur Festival MFW9 Edo Wulia pada press conference yang digelar di Kubu Kopi di bilangan Tanjung Bungkak Denpasar, Selasa (5/9/2023). “MFW tahun ini, sudah cukup stabil dibanding tahun-tahun lalu saat covid-19, sehingga akan lebih banyak stakeholder industri film pendek, mulai dari lokal, nasional hingga mancanegara, turut terlibat tahun ini,” ujarnya.
Menurutnya, MFW9 dapat terselenggara berkat dukungan dari berbagai pihak. Festival tahun ini didukung oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2023. Organisasi serta entitas swasta lain yang turut berkontribusi mewujudkan festival tahun ini berasal dari dalam dan luar negeri, di antaranya PT Kino Media Nusantara (Minikino Studio), The Raoul Wallenberg Institute of Human Rights and Humanitarian Law Regional Asia Pacific, Lumix Indonesia, Grab, Rangkai dan beragam kolaborasi dengan berbagai media, festival film internasional, universitas, venue, perusahaan dan juga komunitas lokal di Bali.
Dari 1.111 judul film pendek yang didaftarkan masuk melalui kanal online Short Film Depot dan Filmfreeway dan terbuka untuk filmmaker dari seluruh dunia, ada 187 film yang lolos seleksi, termasuk film-film dari Indonesia. Sementara itu kolaborasi nasional dan internasional Minikino juga menampilkan program film pendek tamu serta program film di Market Screening. “Tahun ini MFW9 menampilkan total lebih dari 275 film pendek baik dari Indonesia maupun luar negeri dari total 69 negara akan ditayangkan selama 9 hari penuh di 13 lokasi yang tersebar di berbagai titik di Pulau Bali,” tegasnya.
Program film pendek di MFW9 meliputi 33 program internasional, 3 Program Inclusive Cinema, 6 program S-Express 2023 Asia Tenggara, 6 program Indonesia Raja 2023, 4 VR Films, 5 Program Tamu, 7 Market Screening, 1 program Pool Cinema dan Begadang 2023 Official Selection. Seluruh film dalam program tersebut dilengkapi dengan panduan rekomendasi batas usia, dan takarir Indonesia. Beberapa program film juga akan didampingi oleh relawan profesional sebagai active listener dari Ikatan Psikologi Klinis HIMPSI Wilayah Bali.
“Meskipun MFW9 sudah memberikan panduan rekomendasi batas usia, kita tidak pernah sepenuhnya tahu kondisi psikologis para penonton. Di beberapa film yang memiliki konten eksplisit seperti trauma, kehadiran profesional sebagai active listener diperlukan untuk memberikan ruang aman. Dengan begitu, kita semua bisa menikmati film, berdiskusi, dan berpikir kritis dalam ekosistem yang sehat,” tambah Fransiska Prihadi, Direktur Program MFW9.
MFW9 Inclusive Programs juga kembali hadir sebagai upaya mewujudkan festival yang inklusif. Program ini adalah rangkaian pemutaran dan lokakarya untuk semua penonton, terutama untuk penyandang disabilitas. Semua film dalam program ini dilengkapi dengan Closed Caption (CC)/Subtitles for the Deaf and Hard -of -Hearing (SDH) bahasa Indonesia, jenis subtitle untuk tuli dan kurang dengar. Ada juga audio description (AD) bahasa Indonesia yang ditambahkan ke dalam film untuk penonton dengan disabilitas netra.
Edo Wulia mengharapkan, keterlibatan orang dengan disabilitas netra dalam produksi AD bersama Minikino Studio ini bisa membuka kesempatan baru bagi komunitas tersebut. “Kita berupaya mengenalkan AD di ekosistem festival di Indonesia, dan semoga saja ini menjadi tren positif dan membuka lapangan baru pengisi suara tunanetra,” harap Edo Wulia. Karena gerakan inklusif ini semakin kuat, dan kesadaran atas aksesibilitas semakin gencar digaungkan. (sar)










































