Beranda Another Region News PLN Dorong Percepatan Bali Mandiri Energi Melalui Penguatan Infrastruktur dan EBT

PLN Dorong Percepatan Bali Mandiri Energi Melalui Penguatan Infrastruktur dan EBT

bvn/hmpln

MANDIRI ENERGI – General Manager PLN UID Bali, Ajrun Karim menyampaikan komitmen PLN dalam mendukung Bali Mandiri Energi melalui implementasi RUPTL 2025–2034 dan pengembangan energi baru terbarukan.

 

DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –

PT PLN (Persero) terus memperkuat langkah menuju Bali Mandiri Energi melalui pengembangan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dan penguatan sistem kelistrikan sebagaimana tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Langkah tersebut menjadi bagian dari dukungan PLN terhadap visi swasembada energi nasional sekaligus mendorong terwujudnya sistem kelistrikan Bali yang semakin hijau, mandiri, dan andal.

Komitmen tersebut disampaikan General Manager PLN UID Bali, Ajrun Karim saat menjadi narasumber pada Indonesia Solar Summit 2026 yang digelar di The Meru Sanur, Denpasar, Rabu (15/7).

Dalam sesi bertajuk “Sinkronisasi RUPTL dan Update Regulasi terhadap Arah Kebijakan Bali Mandiri Energi Berbasis EBT”, Ajrun memaparkan, pertumbuhan kebutuhan listrik di Bali saat ini mencapai 8,02 persen, jauh di atas rata-rata nasional. Tingginya pertumbuhan tersebut mencerminkan aktivitas ekonomi dan sektor pariwisata yang berlangsung hampir sepanjang hari sehingga menuntut sistem kelistrikan yang semakin kuat, andal, dan berkelanjutan.

Saat ini, PLN UID Bali melayani sekitar 1,96 juta pelanggan dengan beban puncak yang telah mendekati 1.300 MW. Menurut Ajrun, karakteristik sistem kelistrikan Bali berbeda dengan wilayah lain karena selisih antara beban dasar dan beban puncak relatif kecil, yang menunjukkan tingginya konsumsi listrik selama 24 jam sebagai penopang aktivitas masyarakat, sektor pariwisata, hingga industri. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bagi PLN untuk terus meningkatkan kapasitas dan keandalan sistem kelistrikan.

“Pertumbuhan kebutuhan listrik Bali mencapai 8,02 persen. Ini menunjukkan aktivitas ekonomi Bali bergerak hampir tanpa henti. Karena itu, PLN harus terus hadir menyiapkan pasokan listrik yang cukup, andal, dan berkelanjutan agar mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan masyarakat, dunia usaha, dan sektor pariwisata,” ujar Ajrun.

Baca Juga  Wakili Bali Dalam Lomba UDG Tingkat Nasional 2021, Wawali Arya Wibawa Motivasi Duta Kota Denpasar

Ajrun menjelaskan, hingga saat ini sistem kelistrikan Bali masih mendapat dukungan pasokan dari Pulau Jawa melalui jaringan interkoneksi Jawa-Bali. Di sisi lain, sebagian pembangkit lokal masih menggunakan energi fosil sehingga pengembangan energi baru terbarukan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian energi sekaligus memperkuat ketahanan sistem kelistrikan Bali.

Sebagai implementasi RUPTL 2025-2034, PLN merencanakan penambahan kapasitas pembangkit di Bali sebesar 2,74 GW, yang terdiri atas 886,8 MW pembangkit energi baru terbarukan, 307,5 MW sistem penyimpanan energi (storage), serta 1.550 MW pembangkit berbasis gas sebagai energi transisi. Selain itu, PLN juga akan memperkuat infrastruktur melalui pembangunan 885 kilometer jaringan transmisi, peningkatan kapasitas gardu induk sebesar 3.320 MVA, serta pengembangan jaringan distribusi untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik masyarakat dan mendukung investasi di Bali.

Menurut Ajrun, pembangunan infrastruktur tersebut menjadi fondasi agar Bali memiliki sistem kelistrikan yang semakin tangguh sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan listrik dari luar pulau.

“Bali merupakan wajah Indonesia di mata dunia. Karena itu, sistem kelistrikannya harus tidak hanya andal, tetapi juga hijau dan berkelanjutan. PLN siap mendukung Bali Mandiri Energi melalui pengembangan pembangkit energi baru terbarukan, penguatan jaringan transmisi dan gardu induk, serta kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Harapannya, Bali ke depan mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri dengan energi yang lebih bersih dan semakin mandiri,” kata Ajrun.

Ia menambahkan, implementasi RUPTL di Bali juga menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan ruang untuk pembangunan infrastruktur, aspek estetika kawasan, sosial budaya dan spiritual masyarakat Bali, serta tantangan teknis, regulasi, dan pembiayaan. Oleh karena itu, keberhasilan transisi energi membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan dapat berjalan selaras dengan karakteristik dan nilai-nilai lokal Bali.

Baca Juga  Jalankan Komitmen Politik, Bupati Adi Arnawa Serahkan Bantuan Rp 2 Juta per KK di Angantiga Petang

Indonesia Solar Summit 2026 mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, lembaga riset, dan organisasi yang bergerak di bidang energi terbarukan untuk membahas percepatan transisi energi di Indonesia. Selain Ajrun Karim, forum ini juga menghadirkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali I Gede Putu Udiana Putra, ST, MT, yang menekankan pentingnya sinergi pembangunan melalui konsep “1 Pulau, 1 Pola, dan 1 Tata Kelola” sebagai landasan mewujudkan Bali Mandiri Energi. Ia juga mendorong penguatan kolaborasi riset dan inovasi, termasuk pengembangan teknologi energi laut seperti Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC) sebagai salah satu potensi energi bersih Bali.

Cita Febronia Utami, Head of Bali Net Zero Project Institute for Essential Services Reform (IESR) menyampaikan, keberhasilan Bali mencapai target Net Zero Emission 2045 memerlukan kebijakan yang berbasis bukti (evidence-based policy), didukung penguatan regulasi, investasi, teknologi, sumber daya manusia, serta kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, perencanaan yang matang terhadap potensi energi terbarukan akan menjadi kunci dalam membangun sistem energi Bali yang berkelanjutan sekaligus berdaya saing. (sar/hmpln)