Beranda Bali News Dibuka Ketua MDA, Yayasan Tresna Catur Asrama Gelar Diklat Banten Dresta Bali

Dibuka Ketua MDA, Yayasan Tresna Catur Asrama Gelar Diklat Banten Dresta Bali

ist

RUMUS BANTEN – Ida Rsi Bujangga Waisnawa dari Geria Sesetan memberikan materi “Rumus Banten” pada Diklat Upakara/Banten Dresta Bali pada diklat yang digelar Yayasan Tresna Catur Asrama pada Sabtu (19/6/2021).

 

DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –

Yayasan Tresna Catur Asrama, menggelar pendidikan dan latihan upakara atau banten dresta Bali. Acara yang melibatkan 20 peserta tersebut berlangsung sejak 11 Juni hingga 24 Juli mendatang.

Acara dibuka Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Bali Ida Penglingsir Putra Sukahet didampingi Ketua Yayasan Tresna Catur Asrama Ketut Serinama dan sejumlah pengurus lainnya. Saat pembukaan, Ketua MDA Bali mengalungkan tanda peserta diklat kepada salah seorang peserta sebagai tanda dibukanya secara resmi Diklat Upakara/Banten Dresta Bali di Yayasan/Pasraman Tresna Catur Asrama.

Ketua MDA Bali kalungkan tanda peserta.

Khusus Sabtu (19/6/2021) hari ini tampil dua narasumber yakni Ida Pandita Mpu Geria Laplap Penatih dengan materi “Wariga” dan Ida Rsi Bujangga Waisnawa dari Geria Sesetan dengan materi “Rumus Banten”.

Ketua Yayasan Tresna Catur Asrama Ketua Serinama saat ditemui Sabtu (19/6) menyatakan, diklat upakara/banten dresta Bali ini sangat penting untuk digelar. Tujuannya, katanya, agar umat memahami bahwa setiap jenis/tingkatan banten, pasti ada banten pokok dan ada banten ayaban (hanya pelengkap). “Selain itu peserta diklat bisa memahami dan menghayati nilai filosofis setiap banten,” ujar pensiunan guru tersebut.

Setelah paham semua itu, ujar salah satu pendiri Sekeha Demen Bali (SDB) tersebut, serati bisa membuat banten dengan senang hati, menyenangkan yang punya yadnya/upacara. Sesama serati tidak dibenarkan saling menyalahkan, termasuk kepada pemuput/penganteb, lebih-lebih kepada yang punya yadnya.

Selanjutnya, dia mengajak semua umat untuk beragama dengan senang, bahagia dan lascarya. “Jangan menakut-nakuti umat, misalnya jika tak ada banten ini, akan begini. Hindu bukan agama doktrin,” tegas Serinama yang dikenal sebagai pengurus sebuah koperasi tersebut.

Baca Juga  Pimpin Peringatan Hari Puputan Margarana Ke-76 Tahun 2022, Wagub Cok. Ace Ajak Generasi Milenial Tiru Keteladanan Pahlawan Pejuang Kemerdekaan

Di samping itu, ungkapnya, peserta diklat juga diajak agar bangga sebagai orang Hindu. Selain sebagai agama, Hindu juga adalah pandangan hidup (way of life), cara atau sistem kehidupan. “Dengan demikian, hidup sebagai manusia Hindu bisa efektif, efisien, dan produktif,” katanya.

Ditanya mengenai biaya, Serinama menyatakan, setiap peserta hanya dikenakan Rp 250.000 untuk sertifikat dan snack. Jumlah ini, katanya, hanya 25 persen dari diklat yang sama di tempat lain. Kenana? Menurutnya, hal ini karena narasumber tak ada yang memperoleh honor atau bayaran. “Malahan, ada narasumber yang mepunia, begitu selesai memberikan materinya,” ujarnya.

Editor N. Sarmawa