ist
PELABUHAN – Gubernur Wayan Koster meninjau pembangunan Pelabuhan Sanur, Rabu (8/9/2021).
DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –
Gubernur Bali, Wayan Koster meninjau perkembangan pembangunan Pelabuhan Sanur didampingi oleh Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede dan didampingi oleh Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Gede Wayan Samsi Gunarta, Pimpinan Proyek Hutama Bangun Virama KSO, Heru Wijanarko, Perbekel Sanur Kaja dan Bendesa Adat Sanur.
Kunjungan yang dilakukan Gubernur Bali ke lokasi pembangunan Pelabuhan Sanur untuk memastikan agar betul-betul terlaksana sesuai rencana. Mengingat pembangunan Pelabuhan Sanur merupakan implementasi dari pembangunan daerah Bali yang sesuai dengan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui
Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.
Dalam visi tersebut, satu di antara yang menjadi prioritasnya adalah pembangunan infrastruktur darat, laut, dan udara secara terintegrasi dan terkoneksi sebagai pendukung lima bidang prioritas pembangunan yang dituangkan di dalam Pola Pembangunan Semesta Berencana.
Pimpinan Proyek Hutama Bangun Virama KSO, Heru Wijanarko di hadapan Gubernur Bali melaporkan, proyek pembangunan Pelabuhan Sanur saat ini sedang memasuki tahap Pekerjaan Breakwater 1 (Sisi Selatan) berupa Pemasangan Geotextile yang progressnya 79 persen, Pemasangan Batu Core dengan progress mencapai 27 persen, serta Pemasangan Secondary Layer yang progressnya baru 6 persen. Sedangkan untuk pekerjaan Breakwater 2 (Sisi Utara) juga sudah menunjukkan progress 72 persen berupa pemasangan Geotextile, pemasangan Batu Core 54 persen, dan pemasangan Secondary Layer yang progressnya baru mencapai 9 persen.
“Selain pekerjaan Breakwater 1 dan Breakwater 2, ke depan proyek pembangunan Pelabuhan Sanur akan memasuki tahapan pekerjaan pengerukan, pekerjaan talud, pekerjaan dermaga apung hingga pekerjaan fasilitas darat dengan target penyelesaian bulan Mei 2022,” ujar Pimpinan Proyek Hutama Bangun Virama KSO, Heru Wijanarko.
Dalam konferensi persnya, Gubernur Bali, Wayan Koster menjelaskan pembangunan Pelabuhan Sanur merupakan salah satu dari tiga pelabuhan yang dirancang, yaitu Pelabuhan Segitiga Sanur di Denpasar; Pelabuhan Sampalan di Nusa Penida; dan Pelabuhan Bias Munjul di Nusa Ceningan yang dibangun sekaligus secara bersamaan dengan anggaran penuh dari APBN Kementrian Perhubungan RI.
Total anggaran pembangunan Pelabuhan Segitiga Sanur di Denpasar; Pelabuhan Sampalan di Nusa Penida; dan Pelabuhan Bias Munjul di Nusa Ceningan mencapai Rp 560 miliar. Secara rinci, anggaran Pelabuhan Sampalan di Nusa Penida senilai
Rp 87 miliar; Pelabuhan Bias Munjul di Nusa Ceningan sejumlah Rp 97 miliar; dan Pelabuhan Sanur di Denpasar anggarannya paling besar, yakni mencapai Rp 376 miliar.
Sebelum pembangunan ini terwujud, Gubernur Bali, Wayan Koster menceritakan ide awal dari pembangunan pelabuhan ini, ketika pada bulan September tahun 2017, Koster sempat melakukan penyeberangan laut dari Sanur menuju ke Nusa Penida dengan menggunakan kapal boat. “Karena ombaknya besar, saya sempat mengangkat kain agar tidak terkena air laut. Kondisi itu ternyata banyak saya temui di Sanur, seperti ada pemangku dan warga yang membawa banten juga ikut mengangkat kainnya untuk menuju kapal boat. Jadi sangat kasian kondisinya saat itu. Oleh karena itu, begitu saya balik dari Nusa Penida, saya langsung menghubungi Wakil Walikota, IGN Jaya Negara (sebelum menjadi Walikota Denpasar, red), Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, dan Anak Agung Kompiang Raka untuk ikut meninjau kembali kondisi penyeberangan laut di Sanur pada akhir bulan September 2017 (saat itu belum menjadi Calon Gubernur Bali, red),” katanya.
“Ternyata astungkara saya terpilih menjadi Gubernur, dan dilantik sebagai Gubernur Bali pada 5 September 2018. Begitu saya terpilih menjadi Gubernur, saya langsung mengambil inisiatif berkomunikasi dengan Bapak Menteri Perhubungan RI pada saat saya dipanggil oleh Bapak Presiden RI, Joko Widodo tanggal 22 April 2018. Di Istana Presiden, saya melaporkan langsung keinginan untuk membangun Pelabuhan Segitiga Sanur di Denpasar; Pelabuhan Sampalan di Nusa Penida; dan Pelabuhan Bias Munjul di Nusa Ceningan,” ujarnya lagi.
“Astungkara Bapak Presiden berkenan menyetujui dan langsung menginstruksikan kepada Bapak Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi untuk memprogramkan sekaligus tiga pelabuhan usulan Gubernur Bali. Untuk Pelabuhan Sampalan di Nusa Penida mulai dibangun tahun 2020, akan selesai bulan Oktober tahun 2021. Kemudian Pelabuhan Bias Muncul di Nusa Ceningan dan
Pelabuhan Sanur di Denpasar dikerjakan mulai tahun 2021 dan selesai tahun 2022,” jelas mantanaAnggota DPR-RI 3 periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini seraya meminta kepada pelaksana proyek agar pembangunan ini dikerjakan sesuai jadwal dan selesai sesuai dengan kontrak, serta menggunakan anggaran yang sudah dicantumkan dalam kontrak.
Gubernur Koster menegaskan, Pelabuhan Sanur akan menjadi pelabuhan yang sangat bagus. Karena desainnya dikontrol langsung bersama Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi yang dipimpin oleh seorang arsitek Bali, Bapak Popo Danes. “Ini akan menjadi pelabuhan yang sangat baik untuk penyeberangan warga Bali yang akan ke Nusa Penida, Nusa Ceningan dan ke
Nusa Lembongan; atau melaksanakan upacara keagamaan pada saat piodalan di Pura Ratu Gede, Dalem Ped; serta berwisata karena Pulau Nusa Penida, Nusa Ceningan, dan Nusa Lembongan sangat terkenal di dunia sebagai obyek wisata,” kata Wayan Koster sembari mengungkapkan kalau pembangunan pelabuhan ini sudah selesai, ini akan menjadi ikon baru di Kota Denpasar yang belum pernah terpikirkan sebelumnya, termasuk sebagai bangunan yang monumental penanda Bali Era Baru.
Berdasarkan aspirasi dari Walikota Denpasar, Ketua DPRD Kota Denpasar, Perbekel, hingga nelayan, agar kelompok nelayan di sekitar Pelabuhan Sanur meminta untuk disiapkan tempat secara khusus, Gubernur Bali menegaskan sangat setuju. Karena suatu pembangunan pada prinsipnya tidak boleh menggusur atau mematikan sumber kehidupan masyarakat lokal. “Jadi prinsip dasar itu, yang mana pembangunan harus harmonis dengan wilayah di sini beserta masyarakat dengan kehidupannya. Di sini karena sejarahnya nelayan, maka harus kita jaga agar sejarah nelayan di Sanur ini terjaga dengan baik. Kemudian juga perlu bale atau tempat berkumpul untuk kelompok nelayan, dan hal ini sudah diakomodir dengan meminta para pelaksana untuk memastikan arealnya,” tegas Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini.
Sementara itu, Ketut Sukarja yang mewakili Kelompok Nelayan KUB Mina Sari Asih, Sanur Kaja, Denpasar Selatan di hadapan Gubernur Bali menyampaikan terima kasih, karena sudah memperhatikan nasib nelayan di tengah pembangunan
Pelabuhan Sanur. “Sejak dari awal kami meminta difasilitasi tempat khusus untuk nelayan. Jangan sampai nanti ketika pelabuhan ini berdiri bagus, kami para nelayan malah menjadi penonton di sini. Sehingga dalam kesempatan yang baik ini,
kami sebagai nelayan yang tergabung di Kelompok Nelayan KUB Mina Sari Asih yang memiliki 40 anggota, memohon agar selalu diperhatikan oleh Pemerintah Kota Denpasar dan Pemerintah Provinsi Bali untuk diberdayakan. Selain menjadi nelayan, kami juga hadir sebagai penyelamat masyarakat, apabila ada musibah di laut,” ujar Ketut Sukarja.
Sebagai penutup, Gubernur Bali, Wayan Koster dalam peninjauannya meminta pelaksana proyek untuk memastikan tempat suci yang ada di Kawasan Pembangunan Pelabuhan Sanur terjaga dengan baik. Jangan sampai terganggu, termasuk juga tempat melastinya harus diberikan ruang untuk memperlancar pelaksanaan upacara yang dilakukan oleh masyarakat di Sanur. “Saya akan memantau pembangunan ini setiap bulan sekali, supaya betul-betul sesuai rencana pembangunannya,”
tegas Gubernur Bali jebolan ITB ini.
“Jadi kunjungan saya ini, untuk memastikan pekerjaan pembangunan Pelabuhan Sanur ini berjalan dengan baik sesuai jadwal. Setiap tahapan saya minta targetnya tercapai dan saya mendorong pelaksana proyek agar bekerja dengan baik, penuh tanggung jawab, dan memenuhi komitmennya sesuai dengan kontrak. Di dalam pengerjaan ini, juga saya minta agar sedapat mungkin melibatkan warga yang ada di sini sebagai tukang, agar mampu meningkatkan perekonomian masyarakat di sini. Termasuk kebutuhan materialnya, karena ini merupakan pekerjaan yang perlu keakuratan yang tinggi dan tidak boleh sembarangan material. Maka sepanjang materialnya berkualitas dan bisa dipertanggungjawabkan, saya minta pihak pelaksana mengakomodir material yang ada di masyarakat sini dengan kontraktor lokal di sini, supaya juga pembangunan pelabuhan ini berdampak langsung bagi tenaga kerja di Sanur serta menjadi sumber pendapatan masyarakat sekaligus mengairahkan perekonomian masyarakat yang ada di wilayah Sanur,” ujarnya. (sar/hmbal)









































