ist
PRODUK LOGAM – Pembukaan bimtek desain dan diversifikasi produk logam yang digelar di Bangli, Senin (11/10). Bimtek akan digelar selama 5 hari.
BANGLI (BALIVIRALNEWS) –
Keberhasilan sebuah produk untuk memasuki pasar, baik di dalam maupun di luar negeri adalah dipenuhinya standar mutu produk. Tingkah laku pasar saat ini menunjukkan bahwa pemenuhan standar mutu bukanlah sekadar nilai tambah, namun sudah menjadi prasyarat bagi sebuah produk untuk dapat masuk dan diterima pasar. Dengan kemajuan teknologi, ketentuan standar mutu akan semakin ketat dan menjadi fungsi yang melekat pada daya saing sebuah produk.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Provinsi Bali Wayan Jarta dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Provinsi Bali IA Putu Kalpikawati, saat pembukaan Bimtek Desain dan Diversifikasi Produk Kerajinan Logam di Kabupate Bangli, di LC Uma Bukal, Br. Pande, Bangli, Senin (11/10).
“Dalam industri kerajinan logam produk yang dihasilkan harus bermutu dan memiliki desain yang menarik serta sesuai dengan selera pasar. Di samping itu, semakin meningkatnya kesadaran konsumen dan semakin terbukanya pilihan yang dimiliki oleh konsumen untuk menentukan produk yang dibelinya menjadikan kualitas suatu produk yang memenuhi standar amatlah penting,“ cetus Kadisperindag dalam sambutan itu.
Lebih jauh, dirinya menyatakan pemenuhan standar mutu produk harus didukung sumber daya manusia (SDM) yang ada dan bekal pengetahuan yang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam mengembangkan kerajinan logam.
“Dalam mendukung peningkatan SDM perajin guna meningkatkan produktivitas dan kualitas produk, kami Pemprov Bali menggelar kegiatan ini. Dengan begitu, harapan terpenuhinya standar mutu produk oleh UMKM Bali khususnya pengrajin logam bisa tercapai. Karena sesuai harapan pimpinan (Gubernur Bali, red), kegiatan harus menyasar pengembangan UMKM. Seperti diketahui UMKM menjadi sektor terdepan saat pandemi saat ini. Tetap bisa eksis, walaupun sektor lainnya kena imbas sebagai pendukung sektor pariwisata yang terpuruk saat ini,” bebernya.
Sementara itu, mewakili Kadisperindag Bangli, Ketut Sadya menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang digelar Pemprov Bali di tengah pandemi. Perajin tetap bisa berkesempatan mengasah kemampuan dan keterampilannya untuk peningkatan kualitas produk-produk yang dihasilkan.
“Kami berharap bimtek tidak berhenti sampai di sini saja, tetapi bisa terus berlanjut, bisa mengaktualisasikan materi pelatihan dalam produktivitas sehari-hari,” ujarnya sembari menyatakan siap mendukung dan memfasilitasi program yang dilaksanakan Pemprov Bali.
Di sisi lain salah seorang perajin Wayan Suadnya, yang ditemui di sela-sela pelatihan menyampaikan keluh kesah imbas pandemi covid-19 terhadap order kerjaan. Biasanya saat kondisi normal merasa kewalahan melayani order pengerjaan, namun saat ini terkadang tanpa orderan dalam 1 bulannya. Menyiasati keadaan, ia pun mulai melayani order pengerjaan dari konsumen langsung, semisal pembuatan saung pengutik, keris dan sebagainya.
Ia pun menceritakan tahapan pengerjaan yang bisa menghabiskan waktu mulai 2 hari untuk jenis orderan kecil dan tingkat kerumitan rendah seperti jenis gelang kana, hingga 5 hari untuk ukuran besar dan kerumitan tinggi. Untuk sistem pengerjaan biasanya menggunakan sistem kerja sama antara perajin dengan pihak pemilik usaha perajin. Para perajin mengerjakan mulai desain mal, menyiapkan bahan dasar, natah, menghaluskan hasil tatahan, hingga pemasangan cangkok (pernak-pernik dan permata). Untuk finishing mulai pelapisan perak, emas, polish dan pemasangan kain dikerjakan oleh pemilik usaha kerajinan.
“Kalau saya mengerjakannya dari nol, mulai membikin desain, hingga pemasangan cangkok, terkadang hingga pelapisan perak, emas dan kain, pokoknya hingga selesai. Namun seringan tahap finishing dikerjakan pemilik. Untuk biaya pengerjaan, mulai 200 ribu untuk ukuran kecil, hingga 500 ribu untuk yang besar. Kalau kondisi normal dengan orderan yang ada, ekonomi keluarga bisa stabil. Kalau seperti sekarang benar-benar kelimpungan,“ bebernya.
Ditambahkan Ketut Purnawan sang pemilik usaha perajin perak Prizel, dirinya mulai fokus menggeluti usaha perak sejak tahun 2004, sedangkan sebagai perajin dilakoni sejak duduk di bangku SMA. Usahanya yang mempekerjakan sekitar 30 orang perajin freelance, saat situasi normal memiliki omzet Rp100 juta hingga Rp200 juta per bulannya.
“Kalau saat ini benar-benar tidak menentu. Masih sih ada orderan, tapi jumlahnya sangat turun jauh dibanding sebelum pandemi,” ungkapnya sembari menceritakan hasil produksinya selain dijual disalah satu toko yang dimilikinya, juga dijual ke toko-toko penjual kerajinan, galeri maupun ada yang dipesan khusus oleh para seniman.
Acara bimtek dilaksanakan selama 5 hari mulai 11 – 15 Oktober 2021, di tempat usaha milik Ketut Purnawan yang memiliki fasilitas kerajinan memadai. Acara diikuti oleh 30 orang perajin se-Kecamatan Bangli. Acara pembukaan turut dihadiri Camat Bangli dan Lurah Cempaga. (sar/bvn)








































