bvn/sar
OSBIM – Kepala KPw BI Bali Trisno Nugroho didampingi GA Diah Utari dalam acara “Obrolan Santai BI Bareng Media (OSBIM)” di salah satu resoran di bilangan Seminyak Badung, Kamis (27/4/2023).
MANGUPURA (BALIVIRALNEWS) –
Untuk menekan laju inflasi pada target 3 plus minus 1, operasi pasar (OP) maupun pasar murah yang selama ini sudah dilakukan pemerintah kabupaten maupun pemkot di Bali harus bisa dilakukan secara berkesinambungan. Jika tidak berkesinambungan, dilakukan dalam waktu-waktu tertentu, dipastikan hasilnya takkan maksimal.
Hal tersebut diungkapkan Kepala KPw Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho didampingi Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, GA Diah Utari, pada acara “Obrolan Santai BI Bareng Media” di Al Jazeerah Sunset Road, Badung, Bali, Kamis, 27 April 2023. “Ya OP maupun pasar murah harus dilakukan secara berkesinambungan. Kalau hanya Senin Kamis, tentu hasilnya tidak maksimal dan target inflasi sulit tercapai,” tegasnya.
Selain berkesinambungan, tegasnya, volume pelayanan kebutuhan pokok masyarakat harus lebih banyak dan luas. Jika OP atau pasar murah dilakukan di satu banjar, tentu volume dan jangkauan pelayanan menjadi terbatas. Hasilnya pun dipastikan takkan maksimal.
“Inilah tugas pemerintah kabupaten maupun kota melalui perumdanya. Perumda harus bisa menggelar pasar murah sepanjang tahun. Selain itu, perumda wajib melakukan fungsi ketersediaan bahan pangan. Caranya tentu saja melakukan kerja sama atau sinergi dengan daerah-daerah lain yang produksinya berlebih,” tegasnya lagi.
Trisno Nugroho pun memberikan kata kunci dalam menekan laju inflasi. Perumda cukup menyediakan sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, cabai dan bawang. “Kalau ketersediaan produk ini bisa terjaga, dipastikan inflasi bisa terkendali,” tegasnya.
Dia mencontohkan Jakarta yang dinilai mampu mengendalikan inflasi walau tidak memiliki areal pertanian. Menurutnya, Jakarta memiliki manajemen stok pangan yang baik lewat Perusahaan Daerah (PD) Pasar. Jakarta mampu menjalin kerja sama dengan daerah lain dalam menjaga ketersediaan bahan pangan tersebut.
Satu lagi, keberhasilan Jakarta mengendalikan inflasi tak lepas dari fasilitas cold storage serta control atmosfer storage (CAS) yang dimiliki. Dengan alat ini, kebutuhan daging serta aneka bumbu seperti cabai dan bawang bisa disimpan dalam waktu lama. “Ketika produk tersebut langka, PD Pasar mengeluarkan stoknya sehingga otomatis menjadi stabilisator harga pangan,” tegas Trisno Nugroho.
Pada kesempatan tersebut, dia juga menyinggung uang kartal yang dikeluarkan BI pada Idulfitri kali ini jauh lebih rendah dari tahun sebelumnya. Tahun lalu mencapai Rp 2,8 triliun, tetapi tahun ini hanya Rp 2,3 triliun.
Hal ini disebabkan bukan karena kebutuhan masyarakat menurun, tetapi karena program digitalisasi yang sukses. Saat ini masyarakat banyak menggunakan transaksi secara digital melalui QRIS dan fasilitas lainnya. “Karena itu, kebutuhan uang kartal tentu saja bisa ditekan,” tegasnya lagi. (sar)








































