Beranda Berita Utama Resmi Ditahan, Jrx: Semoga tak Ada Lagi Ibu-ibu Jadi Korban Rapid Test

Resmi Ditahan, Jrx: Semoga tak Ada Lagi Ibu-ibu Jadi Korban Rapid Test

ist

DIPERIKSA – Jerinx SID saat pemeriksaan di Polda Bali, Rabu (12/8/2020).

 

DENPASAR (BALIVIRAL NEWS) –

Jrx Superman Is Dead (SID) kembali diperiksa oleh Penyidik Direktorat Kriminal Khusus Polda Bali, pada Rabu, 12 Agustus 2020. Jrx SID diperiksa oleh penyidik atas laporan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bali karena diduga melakukan tindak pidana sebagaimana yang diatur dalam Pasal 45A ayat (2) dan/atau Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (3) Undang-Undang Informasi Dan Transasksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 310 KUHP dan/atau Pasal 311 KUHP.

Dalam proses pemeriksaan yang berlangsung lebih dari 4 jam tersebut, Jrx SID kembali didampingi oleh kuasa hukumnya I Wayan “Gendo” Suardana, SH., Dkk. dari Gendo Law Office.

Usai menjalani pemeriksaan dan ditetapkan sebagai tersangka, sebagai syarat administrasi, sebelum ditahan Jrx SID diwajibkan melakukan rapid test di Rumah Sakit Bhayangkara Denpasar. Satu jam kemudian, hasil rapid tes Jrx SID menunjukkan nonreaktif dan kemudian Jrx SID diantar ke rutan Mapolda Bali untuk selanjutnya dilakukan penahanan.

Sebelum masuk ke sel tahanan Jrx SID menyampaikan siap menjalani proses hukum yang berlaku. Lebih lanjut, Jrx SID menegaskan dirinya tidak gentar sedikit pun karena selama ini dia memperjuangkan nyawa rakyat yang menjadi korban karena kebijakan kewajiban rapid test sebgai syarat administrasi. “Kritik saya ini untuk ibu-ibu yang menjadi korban akibat dari kebijakan kewajiban rapid test,” tegasnya.

Jrx SID juga menyampaikan doa semoga tidak ada lagi ibu-ibu yang menjadi korban akibat dari kebijakan wajib rapid rest sebagai syarat administrasi. “Saya berdoa, semoga tidak ada lagi ibu-ibu yang menjadi korban akibat kewajiban rapid test,” ujarnya.

Baca Juga  Hadiri Automotive Community Gathering "Year End 2021", Wagub Cok. Ace Harapkan ke Depannya Bali Jadi Pusat Wisata Rali

Gendo menyampaikan, kliennya dalam kondisi baik walaupun sudah menandatangani surat perintah penahanan. Gendo menyampaikan pasal yang digunakan sebagai dasar penahanan kliennya adalah pasal 28 ayat (2) jo pasal 45A ayat (2) UU ITE, yang pada pokoknya menyatakan dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). “Entah apa yang dimaksud dengan kebencian SARA dalam kasus ini, biar publiklah yg menilai,” ujar Gendo.

Lalu Gendo bertanya, entah apa yang dimaksud dengan kebencian SARA dalam perkara ini? “Setahu saya Ikatan Dokter Indonesia (IDI) adalah lembaga publik atau organisasi profesi bukan golongan dalam terminologi suku, agama, ras dan antargolongan,” jelasnya.

Selanjutnya Gendo juga menegaskan, “Ketika gaya bahasa JRX dituduh kasar dan mencemarkan nama baik, semoga setelah JRX masuk sel, akan muncul orang sopan, orang santun yang mau menyuarakan suara rakyat kecil di tengah pandemi ini.”

Editor N. Sarmawa/MB