bvn/r
Ketua Kelompok Nelayan Wana Segara Kertih Nyoman Sunarta bersama Ketua J2PS Apollo Daton.
MANGUPURA (BALIVIRALNEWS) –
Ketua Kelompok Nelayan Wana Segara Kertih Nyoman Sunarta mengungkapkan, perlunya penananam baru bibit mangrove untuk perluasan, bukan karena perusakan. Hal tersebut diungkapkannya di sela-sela penanaman mangrove yang digelar Wastehub dan B. Braun Indonesia dan disupport J2PS Bali, Minggu (8/12/2024).
Saat ini, kelompok nelayan yang dipimpinnya mengelola sekitar 8 hektar lahan mangrove. “Hingga kini masih ada area yang masih belum ditanami yang luasnya sekitar 8 are. Inilah yang ditanami,” tegas mantan karyawan Angkasa Pura I Bandara I Gusti Ngurah Rai Tuban tersebut.
Selain perluasan area mangrove, ujarnya, penanaman dilakukan untuk mengganti pohon mangrove yang mati. Beberapa di antara pohon mangrove ada yang mati karena berbagai sebab, inilah yang diganti. Sekali lagi bukan karena perusakan,” tegasnya.
Dengan adanya penanaman mangrove ini, area hutan mangrove menjadi subur. Di sinilah dampak yang dirasakan langsung oleh kelompok nelayan. “Ikan-ikan pada subur dan kepiting pun tambah berkembang biak. Ini tentu saja menjadi berkah bagi kelompok nelayan,” ujarnya sembari menambahkan, hingga kini kelompok nelayan Wana Segara Kertih bernaggotakan sekitar 90 orang.
Selain fokus pada mata pencarian sebagai nelayan, mereka juga memiliki misi menjaga dan memulihkan lingkungan, khususnya hutan mangrove di wilayahnya. “Sebagian besar lahan sudah ditanami mangrove, makanya kami di sini tanam nyulam, tidak ditanam di tempat kosong artinya mangrove yang mati itu diganti dengan yang baru,” tegasnya.
Disebutkan, mangrove merupakan jenis hutan bakau yang tumbuh di daerah pesisir terutama di muara sungai dan kawasan pantai berlumpur. Tanaman mangrove memiliki kemampuan unik bertahan hidup di lingkungan dengan sanilitas tinggi dan pasang surut air laut.
“Setelah 3 tahun, mangrove tingginya 2 meter akan keluar cabang, sehingga ada harapan untuk hidup. Kita juga punya sistem penanaman sekat berjarak. Itu kita tanam 250 bibit mangrove dengan 5 kotak ditumpuk. Jadi, secara internal sudah punya sistem pembibitan,” paparnya.
Ketua J2PS Bali Apollo Daton sangat mengapresiasi penanaman bibit mangrove sekaligus aksi bersih-bersih sampah di areal Wana Segara Kertih, Kedonganan. Dia bahkan mengaku mendapatkan ilmu baru yang disebut ilmu garam artinya sedikit, tapi terasa. Namun, aksi pelestarian lingkungan ini bukan lagi garam, tapi melampaui segala-galanya dengan menanam Mangrove hingga aksi bersih-bersih sampah di areal Wana Segara Kertih di Kedonganan. (sar)








































