Beranda Badung News Eksploitasi ABT Marak , Interusi mulai Mengancam. PDAM Tirta Mangutama Badung Gelar...

Eksploitasi ABT Marak , Interusi mulai Mengancam. PDAM Tirta Mangutama Badung Gelar FGD

ist

FGD – Dirut PDAM Badung Ketut Golak didampingi Dirtek Wayan Suyasa dan Dirum IA Eka Dewi Wijaya. Cegah interusi, PDAM Badung gelar FGD.

 

MANGUPURA (BALIVIRAL NEWS) –
Interusi atau masuknya air laut ke daratan mulai mengancam beberapa wilayah di Badung Selatan, seperti Nusa Dua dan Legian. Salah satunya disebabkan maraknya eksploitasi air bawah tanah (ABT) baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun kepentingan industri.
Untuk mencegah interusi kian parah, PDAM Tirta Mangutama Badung berinisiatif menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Menyelamatkan Air Bawah Tanah untuk Cegah Interusi dan Kelangsungan Hidup Pariwisata”. Acara yang digelar di salah satu hotel di Kuta tersebut juga dalam rangka memeriahkan HUT ke-43 PDAM Tirta Mangutama.
Di hadapan ratusan peserta, Direktur Utama PDAM Tirta Mangutama Badung Ketut Golak, Senin (23/9) kemarin menyatakan, sejumlah objek wisata pesisir menjadi unggulan destinasi di Badung. Akibatnya banyak terjadi interusi atau masuknya air laut ke darat seperti di Nusa Dua dan Legian karena eksploitasi ABT. “Kondisi ini tentu saja akan merusak lingkungan dan air menjadi payau,” katanya.
Untuk itu, Golak meminta pelaku pariwisata dan masyarakat memanfaatkan jasa PDAM yang selama ini memanfaatkan air permukaan. “Biaya produksi air permukaan tidak kurang dari Rp 7.000. Namun kami menjual kepada masyarakat hanya Rp 5.000 per meter kubiknya,” katanya sembari menambahkan, ini bisa dilakukan karena ada subsidi silang antara pelanggan bisnis dengan rumah tangga.
Selain itu, tegasnya, sesuai dengan PP 122 tahun 2015, sepanjang PDAM mampu memenuhi kebutuhan air, masyarakat maupun industri wajib menggunakan jasa PDAM.
Sementara saat sesi wawancara, Ketut Golak yang didampingi Dirtek Wayan Suyasa dan Dirum IA Eka Dewi Wijaya menyebutkan,
sasaran dari FGD ini untuk mengubah paradigma masyarakat dengan mengutamakan PDAM yang bersumber dari air permukaan. “Paradigma ini harus diubah dan penggunaan ABT harus ditekan seminimal mungkin,” katanya.
Golak pun optimis mampu memenuhi kebutuhan air bersih untuk kebutuhan industri dengan adanya optimalisasi estuary dam. Jika dulu hanya 325 liter detik, sekarang sudah mampu berproduksi hingga 500 liter per detik. Jumlah ini masih ditambah dengan suplai dari Spam Petanu 100 liter per detik dan suplai dari Penet hingga 150 liter per detik. “Dengan produksi ini, kami optimis mampu memenuhi kebutuhan industri di Badung,” katanya.
Lantas apa sanksi yang akan diterima jika tetap saja industri menggunakan ABT? Ditanya begini, Golak menyatakan, target kegiatan ini untuk menyadarkan masyarakat menggunakan jasa PDAM sesuai PP 122 tahun 2015. “Jika tetap saja membandel, kami akan berkoordinasi dengan instansi lain yang berhak menjatuhkan sanksi,” katanya.
FGD ini menampilkan empat narasumber. Di antaranya Kabid Perizinan Bali Desak Marhaeni Putri, Kadis Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK) Badung Putu Eka Mertawan, serta Nyoman Sumarta dari PPLH Unud.
Editor N. Suardani
Baca Juga  Khidmat, Upacara Peringatan Kemerdekaan RI Ke-76 di Puspem Badung