ist
Gubernur Wayan Koster
DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –
Jika selama ini, sumber perekonomian tertumpu pada sektor pariwisata, mulai tahun 2022, Bali bakal mengubahnya secara signifikan. Hal ini diungkapkan Gubernur Bali Wayan Koster pada Webinar “Transformasi Bali Nusra, Meningkatkan Ketahanan Ekonomi Daerah” yang digelar Bank Indonesia, Rabu, 9 Juni 2021
Menurut Koster, pandemi yang berlangsung lebih dari setahun ini memberikan pelajaran berharga untuk Bali. “Bali sesungguhnya akan mengalami transformasi perekonomian secara signifikan,” ujarnya.
Dikatakan, pemerintah daerah telah memprogram skema kebijakan baru untuk perekonomian Bali. Regulasi itu untuk menyeimbangkan antara pariwisata, pertanian, kelautan, industri kreatif, termasuk perekonomian digital.
“Sepanjang masa pandemi, industri lokal daerah juga memberikan kontribusi ketahanan terhadap perekonomian yang terpuruk. Dari situ, pemerintah mendorong peningkatan IKM/UMKM yang jumlahnya cukup banyak dan punya karakterik kearifan lokal,” ujar mantan anggota DPR RI tiga periode tersebut.
Menurut Ketua DPD PDI Perjuangan Bali tersebut, Bali telah punya branding kuat di tingkat dunia. Dengan mengangkat industri lokal yang memiliki karakteristik, katanya, ekonomi Bali akan lebih kuat dibandingkan hanya mengandalkan satu sektor yakni pariwisata.
“Pengalaman ini memberikan pengetahuan berharga, IKM/UMKM akan jadi pondasi utama dengan berbagai kebijakan yang mendukung. Pariwisata tidak lagi jadi satu-satunya andalan, tapi akan tetap dikembangkan sebagai salah satu sektor unggulan,” jelasnya.
Sebagai sektor unggulan, ungkapnya, pariwisata yang akan dikembangkan adalah pariwisata berbasis budaya yang berkualitas. “Jadi yang datang ke Bali adalah wisatawan yang memiliki kemampuan ekonomi yang memadai dan memiliki tanggung jawab dan komitmen untuk menjaga alam dan kebudayaan Bali. Ini akan kami dorong,” katanya.
Selama ini, ketergantungan PDRB Bali dari pariwisata mencapai 53 persen. Menurut Koster, angka ketergantungan itu bisa mencapai 72 persen, jika dikaitkan dengan kegiatan pariwisata yang tidak langsung. Kondisi rentan itu, katanya, terlihat dari berbagai isu yang pernah terjadi sebelumnya seperti, Bom Bali I dan II, juga erupsi Gunung Agung di tahun 2017.
“Pariwisata itu sensitif, cepat jatuh tapi juga cepat bangun, karena modalnya adalah orang datang. Begitu situasi normal, wisatawan kembali datang, hotel penuh, restoran laku, ekonomi langsung aktif menggeliat,” kata Koster.
Editor N. Sarmawa








































