bvn/dok
Anggota DPRD Badung Made Tomy Martana Putra.
MANGUPURA (BALIVIRALNEWS) –
Insiden kecelakaan lalu lintas akibat kabel provider yang menjuntai rendah di Jalan Puta Kulat, Pecatu, Senin (16/2/2026), menjadi momentum mendesak untuk melakukan penertiban menyeluruh jaringan utilitas di wilayah Kuta Selatan. Seorang pengendara dilaporkan mengalami luka serius di bagian kepala setelah tersangkut kabel yang menggantung di badan jalan.
Peristiwa ini kembali membuka persoalan klasik penataan kabel udara yang dinilai belum tertib dan berstandar keamanan memadai. Anggota DPRD Badung asal Pecatu, Made Tomy Martana Putra menilai kejadian tersebut harus menjadi alarm serius bagi seluruh pemangku kepentingan, terutama perusahaan provider pemilik jaringan.
“Ini bukan lagi soal estetika atau pemandangan yang semrawut. Ini menyangkut keselamatan jiwa. Ketika sudah ada korban, artinya sistem pengawasan dan tanggung jawab harus dievaluasi total,” tegas Tomy.
Ia menyoroti masih banyaknya kabel yang terpasang tanpa pengamanan memadai, bahkan dibiarkan menjuntai ketika rusak atau terlepas dari tiang penyangga. Menurutnya, ekspansi jaringan layanan harus dibarengi dengan komitmen perawatan rutin dan kepatuhan terhadap standar keselamatan.
Tomy mendesak dilakukan perbaikan darurat di titik kejadian sekaligus audit menyeluruh terhadap seluruh jaringan utilitas di Kuta Selatan. Ia menegaskan, ruang publik tidak boleh menjadi area berisiko akibat kelalaian teknis.
“Jangan hanya fokus memperluas jaringan, tetapi lalai dalam pemeliharaan. Kabel itu berada di ruang publik. Jika mencelakai warga, tanggung jawabnya jelas,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mendorong pemerintah daerah untuk memperketat pengawasan dan tidak ragu menjatuhkan sanksi kepada provider yang terbukti abai. Penataan kabel sebelumnya memang telah dibahas dalam forum koordinasi di tingkat kecamatan, namun insiden ini menunjukkan perlunya langkah yang lebih tegas dan terukur.
Sebagai kawasan destinasi pariwisata internasional, Kuta Selatan dinilai harus menghadirkan infrastruktur yang aman dan tertata. Kondisi kabel semrawut tidak hanya membahayakan warga lokal, tetapi juga berpotensi mencoreng citra kawasan di mata wisatawan.
“Keamanan kawasan adalah tanggung jawab bersama. Jangan sampai infrastruktur yang seharusnya mendukung konektivitas justru menjadi ancaman di destinasi kelas dunia,” pungkasnya.
Insiden di Pecatu kini diharapkan menjadi titik balik percepatan penataan utilitas, agar keselamatan masyarakat dan citra pariwisata tetap terjaga. (sar/r)









































