Beranda Bali News Jelang Akhir Tahun, Stabilitas Jasa Keuangan Terjaga

Jelang Akhir Tahun, Stabilitas Jasa Keuangan Terjaga

Hosting Indonesia

bvn/hmojk

TERJAGA – Rapat Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 1 Desember 2022 yang lalu. Terungkap, jelang akhir tahun stabilitas jasa keuangan terjaga. 

 

JAKARTA (BALIVIRALNEWS) –

Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tanggal 1 Desember 2022 menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga dan kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan (LJK) konsisten tumbuh meningkat, sehingga terus mendukung peningkatan kinerja perekonomian nasional di tengah tingginya ketidakpastian global. Demikian data yang disampaikan OJK secara tertulis yang diterima Baliviralnews, Rabu (8/12/2022).

OJK mencatat sejumlah lembaga internasional seperti OECD memperkirakan ekonomi
global akan tumbuh melambat di 2023 disebabkan oleh pengetatan kebijakan moneter
global, tingginya harga komoditas energi dunia yang dipengaruhi tensi geopolitik, dan
masih persistennya tingkat inflasi di level yang tinggi. Oleh karenanya, perlu dicermati
perkembangan sektor-sektor yang memiliki porsi ekspor yang tinggi serta sektor padat
modal yang akan lebih terdampak oleh kenaikan suku bunga.

Indikator perekonomian terkini menunjukkan kinerja ekonomi nasional masih cukup
baik, terlihat dari neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus, Purchasing
Managers Index (PMI) Manufaktur yang berada di zona ekspansi, dan indikator
pertumbuhan konsumsi masyarakat yang masih solid.

Selain itu, optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi juga masih positif. Bank
Indonesia kembali meningkatkan suku bunga acuan sebesar 50 bps untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, laju pemulihan perekonomian maupun intermediasi sektor keuangan belum terlalu terdampak atas kenaikan suku bunga dimaksud.

Pasar saham hingga akhir November 2022 melemah 0,25 persen mtd ke level 7.081,31
dengan non-resident mencatatkan inflow sebesar Rp0,74 triliun mtd. Secara ytd, IHSG
tercatat menguat sebesar 7,59 persen dengan non-resident membukukan net buy
sebesar Rp81,49 triliun.

Baca Juga  Masa Depan Fakultas Kelautan dan Perikanan Unud Cerah, Dosen-dosen Terbaik Terpilih sebagai Dekanat

Di pasar obligasi, indeks pasar obligasi ICBI menguat 3,24 persen mtd dan 2,75 persen
ytd ke level 341,96. Untuk pasar obligasi korporasi, aliran dana keluar investor nonresident tercatat sebesar Rp40 miliar (mtd) atau Rp530 miliar (ytd). Di pasar SBN, non-resident mencatatkan inflow Rp23,70 triliun (mtd) sehingga mendorong penurunan yield SBN rata-rata sebesar 43,32 bps mtd di seluruh tenor. Secara ytd, yield SBN telah meningkat rata-rata sebesar 57,54 bps di seluruh tenor dengan non-resident mencatatkan net sell sebesar Rp154,41 triliun.

Lebih lanjut, kinerja reksa dana mengalami penurunan tercermin dari penurunan Nilai
Aktiva Bersih (NAB) sebesar 1,26 persen (mtd) di Rp 512,17 triliun dan tercatat net
redemption sebesar Rp9,75 triliun (mtd). Secara ytd, NAB turun sebesar 11,46 persen
dan masih tercatat net redemption sebesar Rp78,35 triliun, namun minat masyarakat
untuk melakukan pembelian reksa dana masih tinggi ditandai nilai subscription
sebesar Rp849,88 triliun.

Minat untuk penghimpunan dana di pasar modal masih terjaga tinggi, yaitu sebesar
Rp226,49 triliun, dengan emiten baru tercatat 61 emiten. Di pipeline, masih
terdapat 91 rencana penawaran umum dengan nilai sebesar Rp96,29 triliun dengan
rencana penawaran umum oleh emiten baru 57 perusahaan.

Sedangkan untuk penggalangan dana pada Securities Crowdfunding (SCF) yang
merupakan alternatif pendanaan bagi UMKM, hingga 25 November 2022 telah terdapat
11 penyelenggara yang telah mendapatkan izin dari OJK dengan 314 Penerbit, 129.958
pemodal, dan total dana yang dihimpun sebesar Rp661,32 miliar. (sar/hmojk)

Hosting Indonesia
Artikel sebelumyaWabup Suiasa Pimpin Rapat TKPK Bahas Hasil Validasi Data P3KE
Artikel berikutnyaKasus Baru Covid-19 di Bali Bertambah 40, Kasus Sembuh Bertambah 68 Orang