sar
OSBIM – Suasana OSBIM dengan prokes ketat yang digelar di sebuah hotel di Sanur, Selasa (27/7/2021).
DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –
Pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II 2021 dipastikan membaik. Walau begitu, secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi pada 2021 masih mengalami kontraksi. Hal itu diungkapkan Deputi Kepala KPw BI Bali Rizki A. Wimanda dalam acara Obrolan Santai BI Bareng Media (OSBIM) yang digelar di sebuah hotel di Sanur, Selasa (27/7/2021).
Acara ini juga menampilkan Kepala KPw BI Bali Trisno Nugroho dan ekonom ahli Setiawan Santoso. Acara ini dipandu ekonom ahli S. Donny H. Heatubun serta diikuti sejumlah media baik secara offline dan online.
Ditarik ke belakang pada triwulan (TW) III tahun 2020, kata Rizki, pertumbuhan ekonomi Bali minus 12,32 persen, kemudian TW IV 2020 mengalami kontraksi minus 12,21 persen. Sementara pada TW I 2021, pertumbuhan ekonomi Bali minus 9,85 persen, dan pada TW II 2021 diprediksi terkontraksi minus 4 sampai minus 2 persen. “Tren pertumbuhan ekonomi Bali mulai membaik,” katanya.
Indikator pertumbuhan yang mulai membaik terlihat di sektor pariwisata yang merupakan andalan Bali. Walau kedatangan wisman tertahan akibat belum adanya penerbangan internasional, ungkapnya, kedatangan wisatawan domestik sudah mulai membaik dibandingkan TW I 2021. “Pada TW II 2021, kunjungan wisdom pada April 350.000, Mei 450.000 dan Juni hampir 600.000. Pada TW I 2021 kedatangan wisatawan domestik jauh di bawah itu,” katanya.
Seiring kunjungan wisdom yang meningkat, ujarnya, tingkat hunian kamar hotel juga mulai sedikit meningkat. Pada TW II 2021, tingkat hunian kamar hotel mencapai 10,35 persen.
Pada kesempatan itu, Rizki juga menyampaikan upaya pemulihan pariwisata dalam jangka pendek. Di antaranya sejak awal pandemi covid-19, pemerintah membuat berbagai kebijakan untuk pemulihan pariwisata Bali yakni dengan sertifikasi CHSE, dana hibah pariwisata, dan work from Bali.
Sementara pemulihan jangka panjang, tegasnya, Bali perlu melakukan refocusing pariwisata menuju quality tourism yakni maritime, medical, MICE, dan nomadic tourism. “Ini semua merupakan beberapa pasar pariwisata berkualitas yang potensial dikembangkan di Bali,” katanya.
Selain indikator sektor pariwisata, kata Rizki, pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik ditunjukkan sektor lainnya seperti penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) pada TW II 2021 mengalami pertumbuhan 3,20 persen senilai Rp 101,60 triliun. Dari tabungan Rp 51,27 triliun, deposito Rp 36,18 triliun, dan giro Rp 14,15 triliun.
Pertumbuhan kredit untuk UMKM pada TW II 2021 juga terakselerasi dengan kualitas terjaga. Kredit UMKM tumbuh 9,56 persen, kredit modal kerja tumbuh 3,81 persen, dan kredit investasi tumbuh 20,11 persen. “Kredit UMKM terakselerasi pada TW II 2021 didorong oleh peningkatan kredit penggunaan modal kerja dan investasi hampir seluruh LU. Mayoritas kredit UMKM digunakan untuk modal kerja, serta kualitas secara umum sedikit menurun namun NPL tetap terjaga di bawah level 5 persen,” katanya.
Namun dia tidak yakin, pertumbuhan ekonomi Bali pada TW III 2021 yang dimulai Juli 2021 akan terus membaik. Penyebabnya, Juli 2019 mulai ditetapkannya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. “Bagaimana ekonomi Bali pada TW III 2021, tentu kita harus menunggu,” katanya lagi.
Kepala KPw BI Bali Trisno Nugroho pada acara tersebut mengungkan perkembangan ekonomi dunia. Berbeda dengan Indonesia, pertumbuhan ekonomi global, menurutnya, diperkirakan tumbuh lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang kembali meningkat.
Kenaikan pertumbuhan ekonomi tercatat di Amerika Serikat dan kawasan Eropa seiring dengan percepatan vaksinasi serta berlanjutnya stimulus fiskal dan moneter, sementara pertumbuhan ekonomi Tiongkok tetap tinggi. Dengan perkembangan tersebut, ujar Trisno, BI merevisi ke atas prakiraan pertumbuhan ekonomi global tahun 2021 menjadi 5,8 persen dari sebelumnya 5,7 persen. (sar/bvn)







































