Beranda Another Region News PLN UID Bali Perkuat Komitmen Hadirkan Sistem Kelistrikan Andal dan Bersih untuk...

PLN UID Bali Perkuat Komitmen Hadirkan Sistem Kelistrikan Andal dan Bersih untuk Masa Depan Bali

bvn/hmpln

BERBINCANG – General Manager PLN UID Bali Ajrun Karim (tengah) berbincang bersama Guru Besar Teknik Elektro Unud Prof. Dayu dan dan Kepala LPP RRI Denpasar Akh. Suhartono sebelum dialog interaktif RRI Pro 1 Denpasar mengenai kesiapan sistem kelistrikan dan transisi energi di Bali.

 

DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –

PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali terus memperkuat komitmennya menghadirkan sistem kelistrikan yang andal dan berkelanjutan guna mendukung pertumbuhan ekonomi, sektor pariwisata, serta investasi di Pulau Dewata. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan sistem kelistrikan dari sisi pembangkitan, transmisi, hingga distribusi, sekaligus mempercepat transisi menuju pemanfaatan energi yang lebih bersih.

Komitmen tersebut disampaikan General Manager PLN UID Bali Ajrun Karim usai menjadi narasumber dalam dialog interaktif Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 1 Denpasar bertema “Listrik untuk Masa Depan Bali: Andal Hari Ini, Bersih Esok Hari”, Rabu (30/7).

Ajrun menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah daerah, akademisi, media, dan masyarakat yang selama ini turut mendukung penyediaan tenaga listrik di Bali. Menurutnya, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menjaga keandalan pasokan listrik sekaligus menjawab kebutuhan energi yang terus meningkat.

“PLN berkomitmen menghadirkan pasokan listrik yang aman, andal, dan berkelanjutan bagi masyarakat. Bersama seluruh pemangku kepentingan, kami terus memperkuat sistem kelistrikan agar mampu mendukung pertumbuhan ekonomi, sektor pariwisata, maupun investasi yang terus berkembang di Bali,” ujar Ajrun.

Ia menjelaskan, sistem kelistrikan Bali saat ini didukung pembangkit dengan total kapasitas sekitar 1.477 megawatt (MW). Dari sisi bauran energi, sekitar 60 persen pembangkit masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM), sehingga transisi menuju energi baru terbarukan (EBT) menjadi salah satu fokus pengembangan sistem kelistrikan ke depan.

Baca Juga  Koster-Giri Hadiri Uji Publik di Depan 1.300 Mahasiswa, Presma Undiksha Minta Mahasiswa Harus Cerdas Memilih

Selain ditopang pembangkit di Bali, sistem kelistrikan Pulau Dewata juga diperkuat melalui interkoneksi dengan Sistem Jawa yang memasok sekitar 270 MW hingga 340 MW melalui kabel laut. Dengan kondisi tersebut, PLN memastikan pasokan listrik tetap mampu memenuhi kebutuhan beban puncak yang saat ini berada pada kisaran 1.280 MW hingga 1.300 MW.

Untuk menjaga keandalan sistem, PLN terus memperkuat infrastruktur kelistrikan melalui pembangunan dan peningkatan kapasitas gardu induk, penyulang, jaringan tegangan menengah (TM), serta jaringan tegangan rendah (TR). Di samping itu, inspeksi rutin dan pemeliharaan preventif terus dilakukan agar seluruh aset kelistrikan beroperasi secara optimal dan mampu mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan listrik di Bali yang mencapai sekitar 7,85 hingga 8,02 persen per tahun.

Ajrun menambahkan, pengembangan sistem kelistrikan Bali telah dipetakan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. Pada sektor pembangkitan, PLN memastikan kesiapan sistem memenuhi standar keandalan N-1, sehingga pasokan listrik tetap terjaga meskipun terjadi gangguan pada salah satu komponen sistem.

Sementara itu, pada sektor transmisi, PLN merencanakan penguatan jaringan 150 kV dan 500 kV, khususnya di wilayah Bali Utara. Pengembangan jaringan dilakukan dengan konsep looping, sehingga sistem tidak lagi bergantung pada satu jalur. Dengan demikian, apabila terjadi gangguan pada salah satu sisi jaringan, pasokan listrik tetap dapat disalurkan melalui jalur lainnya.

Di sisi distribusi, PLN juga terus melakukan penambahan gardu induk, penyulang, dan gardu sisip untuk mengantisipasi pertumbuhan beban serta menjaga pembebanan peralatan tetap berada dalam batas aman.

Selain memperkuat keandalan sistem, PLN juga terus mendorong percepatan transisi energi. Dalam RUPTL 2025-2034, Bali direncanakan memperoleh tambahan kapasitas pembangkit sekitar 1.550 MW, yang terdiri atas pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) berkapasitas 3 × 450 MW serta pengembangan pembangkit berbasis energi baru terbarukan. Pengembangan tersebut juga didukung rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sekitar 200 MW yang dipadukan dengan teknologi Battery Energy Storage System (BESS) agar energi surya dapat dimanfaatkan secara optimal, termasuk pada malam hari.

Baca Juga  Industri UMKM Bali sudah Lengkap, dari Hulu Sampai ke Hilir Didukung Perda dan Pergub

“Kami siap memenuhi kebutuhan listrik Bali, baik saat ini maupun dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Penguatan pembangkit, transmisi, dan distribusi akan dilakukan secara bertahap agar masyarakat memperoleh layanan kelistrikan yang aman, andal, dan berkelanjutan,” kata Ajrun.

Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Teknik Elektro Universitas Udayana Prof. Ir. Ida Ayu Dwi Giriantari, M.Eng.Sc., Ph.D, yang akrab disapa Prof. Dayu menilai, keandalan sistem kelistrikan merupakan kebutuhan utama bagi Bali sebagai destinasi wisata dunia. Menurutnya, penyediaan listrik yang andal dan bersih tidak dapat dilakukan oleh PLN sendiri, melainkan membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan.

“PLN selama ini telah menunjukkan upaya yang sangat responsif dalam menyediakan layanan kelistrikan, termasuk pembangunan infrastruktur kendaraan listrik seperti SPKLU. Ke depan, kolaborasi antara PLN, pemerintah, akademisi, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar Bali mampu menghadirkan sistem kelistrikan yang andal dan bersih,” ujar Prof. Dayu.

Ia menambahkan, Bali memiliki potensi energi surya yang sangat besar karena memperoleh sinar matahari hampir sepanjang tahun. Namun, pengembangan PLTS masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kebutuhan teknologi penyimpanan energi (Battery Energy Storage System), keterbatasan lahan untuk PLTS skala besar, hingga karakteristik bangunan dan arsitektur khas Bali yang perlu disesuaikan untuk pengembangan PLTS atap.

Menurutnya, pengembangan energi bersih memerlukan perencanaan yang matang agar mampu memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di Bali.

“Harapan kami, sepuluh tahun mendatang Bali memiliki sistem energi listrik yang semakin mandiri dengan memanfaatkan energi lokal yang bersih seperti surya, angin, air, maupun panas bumi. Seluruhnya didukung teknologi modern sehingga mampu menghadirkan sistem kelistrikan yang andal sekaligus tetap selaras dengan lingkungan dan budaya Bali,” tutup Prof. Dayu. (sar/hmpln)