Beranda Badung News Wayan Suyasa: LRT dan Bandara Bali Utara Solusi Cegah Krodit Lalin di...

Wayan Suyasa: LRT dan Bandara Bali Utara Solusi Cegah Krodit Lalin di Badung Selatan

bvn/sar

Wakil Ketua DPRD Badung Wayan Suyasa SH.

 

MANGUPURA (BALIVIRALNEWS) –

Wakil Ketua DPRD Badung Wayan Suyasa, SH, memberikan sejumlah solusi untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di wilayah Badung. “Jika tak ingin menjadi preseden di kalangan wisatawan, kemacetan lalu lintas harus segera dicarikan solusinya,” ujarnya saat ditemui di kediamannya bilangan Penarungan, Mengwi, Jumat (5/1/2024).

Sebelumnya, jelang H-3 Tahun Baru 2024, kemacetan lalu lintas yang sangat parah hingga kendaraan sama sekali tak bisa berjalan terjadi di sejumlah ruas jalan di Kabupaten badung. Selain di Jalan Tol Bali Mandara, kemacetan parah hingga stah (tak bisa bergerak sama sekali, red) juga terjadi di Jalan By Pass I Gusti Ngurah Rai, serta Jalan Kartika Plaza Kuta. Akibatnya, wisatawan turun di tengah jalan, selanjutnya berjalan kaki menuju bandara.

Menyikapi kondisi tersebut, Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Badung tersebut menyatakan, ini tak lepas dari Bali yang memang diminati oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Badung sebagai barometernya pariwisata yang hampir 87 persen PAD-nya berasal dari sektor pariwisata. “Kita harus mensyukurinya. Akan tetapi, melihat fenomena nyata dengan membludaknya wisatawan domestik dan wisatawan internasional, di sinilah kita perlu memikirkan dampak membludaknya wisatawan tersebut,” tegas Ketua Federasi Serikat Pekerja (FSP) Bali Kabupaten Badung tersebut.

Solusinya, ya memang harus membuat inovasi atau terobosan untuk membuat sesuatu yang satisfice. Kehadiran wisatawan dan mereka tidak berpikir bagaimana kroditnya jalan dan sebagainya. “Pemerintah pusat sudah merencanakan membuat kereta bawah tanah (LRT) yang tentunya sudah diagendakan mulai Januari oleh Bapak Presiden, ya ini harus kita apresiasi,” tegasnya.

Selain LRT, ujar Suyasa yang digadang-gadang maju sebagai Badung 1 tersebut, rencana pembangunan bandara di Bali Utara perlu direalisasi. “Ini penting, kita tidak bicara Bali itu kecil, tidak. Yang hadir ke Bali itu banyak. Wisatawan itu hadir banyak maka fasilitas perlu kita tambah kalau memang yang ada sudah tidak mampu lagi memberi pelayanan secara maksimal,” tegasnya.

Baca Juga  Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Salat Idul Fitri di Halaman Istana Yogyakarta

Pembangunan bandara baru ini, ungkap Suyasa, dalam rangka pemerataan tempat sehingga wisatawan bisa mendapatkan pelayanan yang cukup maksimal. Dengan begitu, perlu kiranya di Bali Utara itu dibangun bandara baru. “Jangan bicara wilayah Bali yang kecil tetapi kehadiran wisatawan yang cukup besar melebihi jumlah penduduk Bali. Ini juga sebagai upaya untuk mengembangkan wilayah yang lain. Bagi kami, penambahan bandara menjadi solusi yang terbaik,” katanya sembari menambahkan, krodit lalu lintas akan merusak citra pariwisata Bali.

Ditanya mengenai peluang pembangunan flyover atau jalan di atas tanah, Wayan Suyasa menegaskan, kita harus sadari situasional Bali yang mengedepankan unsur adat dan budaya. Ini justru merupakan bagian dari daya tarik bagi wisatawan hadir ke Bali. Untuk ini, tetap perlu dikomunikasikan dengan pemangku kepentingan atau stakeholder baik pemerintah dan umat Hindu yang sangat percaya bahwa lingkungan Bali sangat sakral dan tentunya ada juga bhisama dan sebagainya.

Ini harus tetap dihormati, namun Suyasa tetap menyarankan membuat inovasi dengan jalan-jalan terobosan karena jumlah kendaraan baik sepeda motor dan mobil lebih banyak dari ruas jalan. Bali hanya padat di wilayah tertentu seperti Badung, Gianyar, Tabanan. Ini saja yang selalu krodit karena penumpukan wisatawan.

Bandara itu penting dibangun di Bali Utara sehingga ada pemerataan. Selain itu, dia mengusulkan untuk memperbanyak underpass atau jalan-jalan di bawah tanah. “Kami lebih condong jalan-jalan di bawah tanah dan LRT,” ungkapnya. (sar)