Beranda Badung News Angkat Cerita “Dempu Awang”, Sanggar Titi Bah Duta Badung Tampilkan Arja Klasik...

Angkat Cerita “Dempu Awang”, Sanggar Titi Bah Duta Badung Tampilkan Arja Klasik di PKB Ke-46

bvn/kombad

ARJA KLASIK – Sanggar Titi Bah, Banjar Teguan Desa Punggul Kecamatan Abiansemal, tampil sebagai duta Kabupaten Badung dalam pementasan Arja Klasik, Kamis 4 Juli 2024, di Art Center Bali.

 

DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –

Sanggar Titi Bah, Banjar Teguan Desa Punggul Kecamatan Abiansemal, tampil sebagai duta Kabupaten Badung dalam pementasan Arja Klasik, Kamis 4 Juli 2024, di Art Center Bali. Pada pementasan ini, Sanggar Titi Bah membawakan cerita “Dempu Awang”.

Menurut penuturan Ketua Sanggar Seni Titi Bah I Gusti Made Sumadi, S.Ag., cerita Dempu Awang ini dikutip dari satua Bali kuno yang dikemas menjadi pertunjukan arja klasik. Cerita ini mengisahkan tentang Pangeran Kerajaan Kahuripan, Raden Mantri, yang mendapat pawisik dari sebuah mimpi. Dalam mimpinya, ia dikatakan akan bertemu jodohnya dari kerajaan yang diibaratkan dengan bunga cempaka. Dalam mimpi itu disampaikan, apabila ada yang menunjukkan bahwa ada kerajaan yang diibaratkan sebagai bunga cempaka, saat itu dia akan berubah menjadi monyet yang bernama Dempu Awang.

Berbekal mimpi itu, dia kemudian melakukan pencarian dengan menyeberangi lautan. Saat itu, nelayan di sana menunjukkan kepadanya bahwa kerajaan yang diibaratkan sebagai bunga cempaka adalah Kerajaan Daha. Saat itulah Raden Mantri berubah menjadi seekor kera putih yang bernama Dempu Awang. Dempu Awang meminta agar dia dijual di pasar Kerajaan Daha.

Sementara itu Diah Agramanik dari Kerajaan Daha, meminta kepada ibu Suri, agar dicarikan seekor kera putih yang bisa bicara seperti manusia agar bisa diajak sebagai teman bermainnya. Ibu Suri akhirnya berhasil mendapatkan seekor kera putih yang bernama Dempu Awang.

Sejak itu, kelakuan Diah Agramanik sangat berubah. Ke mana-mana selalu bersama Dempu Awang. Semakin lama, Dempu Awang semakin akrab, bahkan semakin berani kepada Raden Galuh.

Baca Juga  Pererat Kekeluargaan Antarprodi, BEM FTP Unud Gelar Porseni X Neosen 2023

Di lain pihak Prabhu Metaum, bermaksud meminang Raden Galuh Daha untuk dijadikan istri. Sesampai di Daha, betapa kecewanya Prabu Metaum melihat Raden Galuh bersama seekor kera.

Karena kecewa Prabhu Metaum marah dan ingin membunuh si kera dan meminta pertanggungjawaban kepada Ibu Suri. Ibu Suri marah dan menyeret Dempu Awang dari kamar Raden Galuh untuk dibunuh.

Sumadi mengungkapkan, persiapan untuk pementasan ini dilakukan selama 6 bulan, dari Januari sampai Juni. Untuk pementasan ini, pihaknya melibatkan 26 seniman, yakni 14 orang penari dan 12 orang penabuh. “Harapan kami ke depan terutama bagi generasi muda, agar bisa mencintai pertunjukan arja atau pertunjukan tradisional. Selain untuk melestarikan, juga untuk dikembangkan kepada siapa saja,” harapnya.

Pada kesempatan tersebut, Kadisbud Badung Gde Eka Sudarwita mengaku sangat bangga dengan apa yang sudah disuguhkan oleh Sanggar Seni Titi Bah yang membawakan arja klasik. Kata dia, para pemain arja klasik ini adalah seniman muda yang sangat bertalenta sehingga mampu memukau penonton dengan garapan yang apik.

“Ini betul-betul membuat arja sebagai kesenian tradisi yang mulai diminati kembali. Tentu dengan improvisasi, baik itu dialog, gerak, koreo yang menjadikan arja klasik ini bisa lebih menarik dan diminati. Kami berharap, ke depan semoga bisa terus berkembang dan bisa terus digali potensinya sehingga menjadikan kesenian arja klasik ini bisa diminta kembali oleh masyarakat,” harapnya. (sar/kombad)

Hosting Indonesia