Beranda Another Region News Bergantung pada Satu Sektor, Kinerja Perekonomian sangat Rentan Guncangan

Bergantung pada Satu Sektor, Kinerja Perekonomian sangat Rentan Guncangan

ist

Kepala KPw BI Bali Trisno Nugroho

 

DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –

Bergantung pada satu sektor, kinerja perekonomian menjadi sangat rentan terhadap guncangan. Hal tersebut diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Trisno Nugroho pada Webinar Transformasi Ekonomi Bali Meningkatkan Ketahanan Ekonomi Daerah, di Denpasar, Rabu (9/6/2021).

Pada acara yang menghadirkan Rosmaya Hadi sebagai keynote speech, Gubernur Bali Wayan Koster, Gubernur NTB Zulkieflimansyah dan Gubernur NTT Viktor Laiskodat tersebut, Trisno Nugroho menyampaikan apresiasi kepada Gubernur (pemerintah daerah dan pelaku usaha di Bali Nusra) yang terus
mencari berbagai terobosan dan upaya untuk membangkitkan ekonominya.

“Berbagai pihak bekerja sama dan berkolaborasi mencari solusi dari permasalahan ini. Diperlukan sumber pertumbuhan baru (new growth engine) untuk menopang pertumbuhan yang sustainable dan resilience, antara lain melalui digitalisasi sektor pertanian, ekonomi kreatif, dan sektor pendidikan,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, ujar pejabat yang suka berpantun tersebut, pandemi covid-19 telah mengakibatkan tekanan
mendalam pada perekonomian Indonesia khususnya di Bali Nusra. Meskipun mengalami perbaikan, ungkapnya, perekonomian wilayah Bali Nusra masih mengalami kontraksi terdalam dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia.

Pada triwulan I 2021, katanya, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar -5,16% (yoy), sementara perekonomian nasional hanya terkontraksi sebesar -0,74% (yoy). Kondisi ini mendorong para pemangku kepentingan, pelaku usaha, didukung oleh Bank
Indonesia untuk mencari terobosan agar wilayah Bali Nusra dapat tumbuh kembali sejajar dengan wilayah lain di Indonesia.

“Kami mengkaji bahwa pemulihan berbeda antarprovinsi di Bali Nusra. Pada triwulan I 2021, Bali dan NTB masih terkontraksi masing-masing -9,85% dan -1,13% (yoy), sedangkan NTT sudah mulai tumbuh positif 0,12% (yoy). Masih terkontraksinya ekonomi Bali disebabkan oleh masih berlangsungnya penyebaran covid-19 yang menyebabkan sejumlah negara melakukan kebijakan travel restriction, termasuk Indonesia, selanjutnya
berdampak pada menurunnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali,” ungkapnya.

Baca Juga  Targetkan Tujuh Sasaran, GPDRR Ke-7 di Bali Diikuti Delegasi dari 193 Negara

Sementara NTB, katanya, terkontraksi seiring dengan perlambatan target produksi konsentrat akibat penurunan kandungan logam yang dibarengi dengan penurunan permintaan domestik. Di sisi lain, NTT dapat tumbuh didukung oleh sektor pertanian yang meningkat 8,32% (yoy). Peningkatan sektor ini didorong oleh pelaksanaan program pemerintah seperti Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS), Pembangunan Lumbung Pangan, dan didukung pembangunan infrastruktur pertanian.

Ke depan, prospek perbaikan kinerja ekonomi Bali Nusra 2021 diperkirakan dalam tren meningkat seiring pelaksanaan vaksinasi yang mendorong confident to travel dan meningkatnya optimisme pelaku usaha. Sementara itu, kinerja ekspor barang diprakirakan juga akan terdorong oleh penambahan kapasitas penambangan dan seiring dengan meningkatnya kuota ekspor tembaga serta kenaikan ekspor kerajinan dan produk-produk pertanian ke LN. Dengan perbaikan di awal tahun 2021 tersebut, untuk
keseluruhan tahun 2021 perekonomian Bali Nusra diprakirakan tumbuh positif sekitar 2,8 – 3,8% (yoy).

Secara perlahan, ujar Trisno Nugroho, ekonomi Bali Nusra sudah mulai mengalami pergeseran dari sektor primer kepada sektor sekunder selama 10 tahun terakhir. Pada tahun 2010 sektor primer pangsa 32,37% (terbesar Lapangan Usaha Pertanian) sementara sektor sekunder pangsa 14,14% (terbesar LU
Konstruksi). Pada tahun 2020 sektor primer pangsa 25,89% (LU Pertanian) sementara sektor sekunder pangsa 15,33% (LU Perdagangan). Adapun bentuk transformasi ekonomi dapat terjadi secara struktural (between sectors) maupun secara sektoral (within sector).

Webinar kali ini, katanya, merupakan topik series transformasi yang kedua. Adapun series webinar transformasi yang pertama diselenggarakan pada 28 April 2021, dengan tema “Transformasi Ekonomi Bali”. Poin penting yang dapat dipetik adalah, terdampaknya ekonomi Bali secara signifikan akibat pandemi covid-19 tidak terlepas dari ekonomi Bali yang sangat bergantung pada sektor pariwisata. Pada tahun 2019, pariwisata diperkirakan berkontribusi 52% pada ekonomi (PDRB) Bali. Kontribusi sektor pariwisata ini tidak terlepas dari penerimaan devisa pariwisata yang pada tahun 2019 yang menurun secara signifikan (-82%) menjadi pada tahun 2020. Penurunan penerimaan devisa pariwisata ini akibat penurunan kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali dari sekitar 6,28 juta wisman tahun 2019 menjadi hanya 1,05 juta wisman tahun 2020.

Baca Juga  Ucapan Hari Raya Galungan dan Kuningan Gubernur Wayan Koster dan Wagub Cok. Ace

Trisno berharap, para narasumber dapat memberikan strategi-strategi untuk meningkatkan ketahanan ekonomi daerah, termasuk dengan mencari alternative new growth engine.
“Pemaparan dari para narasumber ini kita harapkan menjadi pertimbangan oleh berbagai pihak dalam mengambil kebijakan untuk meningkatkan ketahanan ekonomi di daerah,” katanya.

Editor N. Sarmawa