ist
CAPBUL 2021- Kepala KPw BI Bali Trisno Nugroho membuka Capbul Media 2021 di The Lovina, Kamis malam (7/10/2021).
SINGARAJA (BALIVIRALNEWS) –
Bank Indonesia (BI) meluncurkan suku bunga dasar kredit (SDBK) secara berkala. Hal ini dilakukan untuk memunculkan adanya transparansi terkait suku bunga kredit perbankan.
Hal ini diungkapkan Kepala KPw BI Bali Trisno Nugroho saat memberi pengarahan pada pembukaan Capacity Building (Capbul) Media 2021 yang berlangsung di Hotel The Lovina, Buleleng, Kamis (7/10) kemarin. “Kami tetap meluncurkan SDBK secara berkala untuk transparansi mengenai suku bunga kredit,” tegasnya.
Saat ini, menurut KPw kelahiran Cilacap tersebut, BI7DRR ada di angka 3,5 persen. Dengan BI 7 DRR sebesar ini, tegas Trisno Nugroho, besaran kredit sudah bisa diprediksi. “Dengan begitu, calon debitur bisa memilih bank yang menetapkan suku bunga kredit secara wajar,” ungkapnya.
Selain soal SDBK, Trisno Nugroho memaparkan soal keberhasilan Bali untuk mengendalikan laju inflasi. Bulan September, Bali inflasi hanya 0,10 persen. Secara tahunan pun, tegasnya, angka inflasi masih di bawah 2 persen.
Selanjutnya Trisno Nugroho juga menyinggung soal keberhasilan Bali dalam penerapan QRIS. Saat ini, tegasnya, merchant yang tergabung dalam QRIS sudah menembus angka 330.000. “Target yang dipatok 363.000 hingga akhir tahun, kami optimis akan tercapai,” katanya.
Setelah pembukaan, Capbul Media 2021 menampilkan dua pembicara yakni “Mengelola Isu-isu Ekonomi Dalam Pemberitaan” serta “Membaca dan Membahasakan Data BI. Materi pertama diberikan oleh Kepala Biro LKBN Antara Bali Edy M. Ya’kub, sementara materi kedua diberikan Kepala Perwakilan Bisnis Indonesia Bali Feri Kristianto.
Edy M. Ya’kub dalam pemaparannya menjelaskan, seorang jurnalis harus cerdas dalam mengelola berita karena imbasnya ke persoalan ekonomi. “Saya contohkan berita ‘Gunung Agung di Bali Erupsi’. Ketika ada kata Bali, seketika dampaknya luar biasa, bahkan Bandara Ngurah Rai pun sampai ditutup. Ini yang perlu dikelola dengan baik dan perlu diimbangi dengan pemberitaan penyeimbang misalnya soal upaya penanganan bencana atau pemulihan ekonomi masyarakat,” katanya.
Ditambahkan, ada 5 tahapan manajemen isu, yakni identifikasi isu, analisis isu, strategi respons, aksi/kebijakan sesuai strategi dan evaluasi.
Sementara Feri Kristianto menyatakan, sebagai jurnalis ekonomi sedikit tidaknya harus paham membaca data yang disajikan oleh BI, lalu membahasakannya ke dalam berita. “Membahasakan data itu harus secara sederhana, tidak perlu ribet sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Kemudian bahasanya juga harus dipilih,” ungkapnya.
Tak hanya itu, tegasnya, jurnalis ekonomi juga harus paham istilah-istilah keekonomian untuk menarasikan data. Misalnya NPL (non performing loan) tidak lantas diartikan sebagai kredit macet, tetapi kredit bermasalah karena kemungkinan akan ada pemulihan dari pihak bank.
Acara diisi dengan sharing antara narasumber dan peserta yang berasal dari media cetak, elektronik serta media online di Bali. serta media. Selanjutnya acara diakhiri dengan penyerahan cenderamata kepada dua narasumber yang tampil. (sar/bvn)








































