ist
PERINTIS TENUN – Ida Bagus Adnyana, perintis Perusahaan Tenun Putri Ayu di Blahbatuh Gianyar.
GIANYAR (BALIVIRALNEWS) –
Surat edaran Gubernur soal penggunaan kain tenun endek Bali bagi pegawai instansi vertikal, pegawai pemerintah daerah, BUMN, serta perusahaan swasta mulai Selasa (23/2) mendatang memberi angin segar bagi kelangsungan industri tenun di Bali. Optimisme ini pun kian membuncah pasca digunakannya kain tenun endek Bali oleh rumah mode dunia dunia Christian Dior.
Hal tersebut dirasakan salah satunya oleh Perusahaan Tenun Putri Ayu Blahbatuh yang dirintis Ida Bagus Adnyana. “Kebijakan ini kami rasakan memberi angin segar bagi kelangsungan industri tenun endek di Bali. Kebijakan ini juga memantik daya beli masyarakat untuk menggunakan kain tenun endek Bali,” ujar IB Adnyana yang sudah 30 tahun malang melintang di dunia pertenunan.
Saat ditemui di kediamannya yang juga tempat produksinya di bilangan Blahbatuh Gianyar, IB Adnyana menyatakan usaha tenun yang dirintis sejak 1991 silam itu tetap berdiri walau terkena imbas pandemi covid-19. Ia mampu tetap bertahan dengan kreasi dan inovasi yang terus berkembang.
Mampu mempertahankan diri di tengah pandemi covid-19 yang menurunkan daya beli masyarakat ke titik nadir, katanya, bukan perkara mudah bagi perusahaan Tenun Putri Ayu yang mempekerjakan 40-an penenun. Salah satu kiat yang dilakukan terus berkreasi dan berinovasi dengan motif-motif nuansa Bali-nya yang kuat,
Ida Bagus Adnyana memaparkan, sejak dibuka, Putri Ayu begitu suntuk mengembangkan kain tenun endek Bali dengan berbagai inovasi. Tidak saja merambah pasar lokal, produknya juga merambah pasar mancanegara. Jepang adalah salah satu pasarnya yang paling menjanjikan. Sejak tahun 1995 hingga 2015 Putri Ayu banyak belajar dari kerja sama ini.
Pelajaran yang paling berharga soal kecepatan dan ketepatan. Toleransi desain Jepang mesti tepat membaca sebuah motif, kerapian, jelas, tegas, dan rata. Termasuk ketahanan pewarnaan serta penyempurnaan finishing.
Sejak adanya kebijakan Gubernur tentang penggunaan pakaian adat setiap Kamis dan SE penggunaan pakaian endek, permintaan kain tenun endek pun mengalir. Tenun Putri Ayu, ujarnya, hanya memiliki kapasitas 40 alat tenun yang rata-rata memproduksi 2 meter per 1 buah alat tenun. Untuk memenuhi permintaan yang melonjak, Putri Ayu berbagi kue dengan perusahaan tenun lain yang ada di Gianyar, Klungkung dan Bangli. Di Gianyar bekerja sama dengan hampir 200-an penenun. Ada juga bekerja sama dengan Bali Bintang Timur di Tegak dan Gelgel Klungkung, ada juga dari perusahaan tenun Giri Putri Bangli yang pemiliknya sempat sebagai pengawas di Putri Ayu.
Kerjasama Pemerintah Provinsi Bali dengan pihak Christian Dior soal mempromosikan Ekspresi Budaya Tradisional Indonesia untuk Tenun Endek Bali dalam rancangan busana Christian Dior musim semi dan musim panas 2021 ini, IB Adnyana merasakan dampak yang luar biasa. Tenun Putri Ayu terpilih sebagai penyedia kain Tenun Endek Bali yang dipesan pihak Dior. ‘’Kami berterima kasih sekali kepada Bapak Gubernur Bali yang sudah menerbitkan pergub menggunakan pakaian adat Bali tiap hari Kamis dan kerjasama dengan Christian Dior. Begitu juga dengan Ibu Dekranasda Bali, Ibu Putri Koster yang selalu memperjuangkan dan mempromosikan kain Tenun Endek Bali di dunia internasional,’’ ujar IB Adnyana.
Kini Putri Ayu terus berkreasi dan berinovasi untuk menampilkan nuansa-nuansa Bali. Seperti saat ini Putri Ayu meluncurkan kain Tenun Endek Bali motif huruf Bali, Anacaraka yang serasi digunakan saat-saat upacara seperti potong gigi, juga ada motif Dewata Nawa Sanga dll.
IB Adnyana bercerita tahun 1997 Putri Ayu mengembangkan ide pembuatan kain tenun dengan teknik air brush dan penggunaan warna alam (natural Colour). Tahun 2007 Tenun Putri Ayu meluncurkan produk baru yaitu Tenun Ikat Songket dengan sistem kartu. Hasil Kreativitas Inovasi Alat Tenun Tradisional (ATBM) dengan Sistem Kartu/Jacquard ini mempunyai kelebihan di mana proses untuk satu lembar songket dapat diselesaikan satu hari dengan lebar standar tanpa sambungan guna mempercepat produksi.
Editor N. Sarmawa







































