Beranda Bali News Kesbangpol Bali Gelar Rakor, Ketua KPU Bali Ungkap Strategi Pemilu Damai

Kesbangpol Bali Gelar Rakor, Ketua KPU Bali Ungkap Strategi Pemilu Damai

bvn/r

RAKOR – Kepala Badan Kesbangpol Bali Gusti Ngurah Wiryanata bersama narasumber dalam rakor yang diikuti Kepala Kesbangpol kabupaten/kota se-Bali serta puluhan undangan lainnya, Rabu (10/5/2023).

 

DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –

Badan Kesbangpol Provinsi Bali, Rabu (10/5/2023) menggelar rapat koordinasi (rakor) terkait pemerintahan umum di sebuah hotel di Jalan Imam Bonjol Denpasar. Rakor tersebut menampilkan narasumber Ketua KPU Bali I Dewa Agung Gede Lidartawan dan Ketua PWI Bali I Gusti Made Bang Dwikora Putra dan dipandu I Nyoman Sarmawa yang juga Pemred Media Online Baliviralnews.com.

Dalam sambutannya saat membuka rakor tersebut, Kepala Badan Kesbangpol Bali Gusti Ngurah Wiryanata menyatakan, tugas Badan Kesbangpol yakni membantu  Gubernur melaksanakan urusan pemerintahan bidang kesatuan bangsa dan politik yang menjadi kewenangan daerah. “Dalam urusan politik, Badan Kesbangpol memiliki peran strategis dalam mendukung sukses pemilu tahun 2024 sesuai dengan SE Mendagri No.900.1.9.1/435/SJ tanggal 24 Januari 2023,” tegasnya.

Pada acara yang dipandu N. Sarmawa yang juga Pemred Baliviralnews.com tersebut, GN Wiryanata menyatakan, pendidikan politik merupakan salah satu elemen penting dari peningkatan partisipasi masyarakat dalam pemilu maupun pilkada. “Pendidikan politik harus bisa menyadarkan bahwa muara dari kegiatan politik adalah kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Terkait dengan tugas inilah, pihaknya menampilkan Ketua KPU Bali dan Ketua PWI Bali sebagai narasumber dalam rapat koordinasi yang diikuti oleh Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten/Kota se-Bali serta puluhan undangan lainnya. “Kami berharap narasumber ini bisa memberi pencerahan terkait harapan pemilu damai di Bali,” tegasnya.

Senada dengan Kaban Kesbangpol Bali, Ketua KPU Bali Dewa Agung Gede Lidartawan juga berharap pemilu berjalan lancar dan damai. Karena itu, pihaknya sudah memiliki sejumlah strategi untuk meminimalisasi titik-titik rawan penyelenggaraan pemilu. Salah satunya dia berencana mengarahkan kampanye pileg maupun pemilukada dilakukan secara digital. “Saat ini trennya sudah digitalisasi. Karena itu, kampanye kami arahkan ke digitalisasi sehingga menekan titik rawan pemilu,” ungkapnya.

Baca Juga  Gelar Bimbingan Manasik Haji, Putu Parwata Terima Audiensi Kepala Kantor Depag RI Kabupaten Badung

Salah hal yang dia berikan penekanan yakni masalah kuota perempuan. Lidartawan meminta semua pihak memberi kesempatan kepada perempuan untuk berkiprah di dunia politik. “Jangan sampai kuota tidak terpenuhi karena memang kesempatannya tidak diberikan,” tegasnya.

Walau begitu, dia juga berharap perempuan wajib mengisi diri sehingga memenuhi kualifikasi menjadi caleg atau jabatan-jabatan lainnya. “Ketika sudah menjadi anggota Dewan, jangan sampai anggota Dewan perempuan tersebut tidak melakukan apa-apa atau hanya diam,” ungkapnya.

Dia sepakat tidak ingin pemilu bermasalah, apalagi sampai ada penundaan pemilu atau pemilihan ulang. “Ini jelas-jelas akan membutuhkan energi dan juga dana yang tidak kecil,” tegasnya.

Di bagian lain Ketua PWI Bali IGMB Dwikora Putra lebih banyak menggeber peran pers dalam mendukung pemilu damai. “Pers berkontribusi untuk pemilu berkualitas,” ujar Dwikora Putra.

Pada kesempatan itu, dia meminta semua pihak untuk bisa membedakan antara produk pers dengan produk media sosial. Produk pers, ujarnya, dibuat dengan SOP yang jelas. Ada data dan fakta selanjutnya diverifikasi lagi oleh redaktur setelah wartawan selesai melakukan tugasnya. “Kode etik jurnalistik menjadi pedoman wajib dalam memproduksi produk pers,” tegasnya.

Sementara media sosial dipastikan bukan produk pers. Karena itu, dia berharap semua pihak untuk menyaring informasi di media sosial sebelum di-sharing kepada pihak lainnya. “Ini wajib dilakukan untuk menekan berita hoaks di masyarakat,” tegasnya.

Dia menegaskan, produk pers masih dipercaya masyarakat dengan indeks kepercayaan hingga 73 persen. Sementara produk media sosial hanya dipercaya dengan indeks tidak lebih dari 35 persen. (sar)