Beranda Another Region News Ketua APPMB Puspa Negara Salut Atas Statemen Gubernur Bali Tolak Impor Beras...

Ketua APPMB Puspa Negara Salut Atas Statemen Gubernur Bali Tolak Impor Beras dan Garam

bvn/r

Ketua APPMB Wayan Puspanegara

 

MANGUPURA (BALIVIRALNEWS) –

Statemen Gubernur Bali Wayan Koster dalam Musrenbangnas di NDCC Nusa Dua bahwa Bali harus berdaulat dalam urusan pangan sehingga menolak impor beras, garam, serta bawang putih mendapat apresiasi dan rasa salut dari Ketua Aliansi Pelaku Pariwisata Marginal Bali (APPMB) Wayan Puspa Negara. Hal itu diungkapkannya saat dihubungi Baliviralnews.com, Rabu (24/5/2023).

Mantan anggota DPRD Badung tersebut mengungkapkan, sebagai negara agraris, Indonesia termasuk Bali layak menolak impor produk pertanian. Menurutnya, kita juga harus memikirkan agar Indonesia bisa berdaulat di bidang pangan. “Bukan lagi ketahanan pangan, Indonesia diyakini mampu berdaulat di bidang pangan karena Indonesia negara Agraris. Tidak semestinya kita mengimpor beras, garam hingga bawang putih. Untuk itu semua peraturan yang ramah impor harus dirombak secara progresif, menyeluruh agar peraturanya pro rakyat,” tegasnya mengutip Gubernur Bali.

Menurutnya, peraturan yang ramah impor itu sangat menyulitkan kita untuk memberdayakan potensi ekonomi daerah. Pertanian dibangun dengan serius di hulu tetapi di hilir malah impor beras, sehingga petani kita tidak mampu menikmati harga beras yang baik. Beras lokal menjadi mahal serta tidak laku di pasaran.

“Gubernur tidak setuju ada beras impor ke Bali, karena Bali surplus beras. Kalau Bulog mau beli beras, belilah beras dari hasil petani kita di Bali, jangan beli beras dari negara luar, agar rakyat sejahtera. Kalau kita membeli beras lokal, perputaran ekonomi akan terjadi di dalam negeri sehingga persoalan impor beras sudah waktunya diakhiri,” ujarnya mengutip pernyataan Gubernur Wayan Koster.

Dia mengaku sangat setuju, mendukung dan apresiasi atas pernyataan Gubernur ini karena jelas terlihat membela kaum marginal dalam hal ini petani dan pertanian. Terlebih dalam perspektifnya pribadi, daerah kita adalah daerah pariwisata yang berbasis budaya. Budaya Bali bersumber dari budaya pertanian artinya pertanian adalah sektor dasar yang harus tetap diperkuat secara berkelanjutan karena telah terbukti sektor pertanian di Bali adalah kekuatan dari budaya kita. Budaya agraris inilah yang membuat Bali unik dan menarik. Pertanian dalam arti luas memiliki peran esensial dalam kehidupan karena pertanian secara faktual mengandung 3 nilai strategis dan vital yakni sebagai sumber/produksi/penghasil pangan, sebagai pertahanan dan pelestarian lingkungan, serta sebagai sumber budaya dasar orang Bali.

Baca Juga  Ny. Putri Koster: Kurang Paham Soal HAKI, UMKM Rentan Tertimpa Masalah Hukum

Begitu esensialnya peran pertanian yang kita belum sadari, ujarnya, satu satunya jalan agar kita berdaulat pangan, lingkungan terjaga dan budaya Bali lestari, kita harus memproteksi pertanian, menjaga dan mempertahankan eksistensinya dengan menjadikannya sebagai program prioritas, unggulan dalam setiap tahapan pembangunan/ program berbasis pro pertanian. “Keberpihakan pada pertanian harus absolut, penuh kemauan baik, demi pertahanan lingkungan/ekosistem, keberlangsungan ketersediaan pangan serta pelestarian budaya,” tegasnya.

Jika pembangunan di-manage dengan tetap menjadikan pertanian sektor prioritas, akan muncul inovasi, tatanan dan tata cara pertanian yang dikelola dengan manajemen modern layaknya bisnis yang kuat dalam usaha tani/perusahaan pertanian, sehingga sektor pertanian tidak lagi diidentikan dengan istilah kotor, tidak bisa kaya, tidak memberi masa depan dan tidak maju maju. “Saya yakin 10 tahun hingga 20 tahun ke depan, sektor pertanian akan menjadi emas, primadona dan diburu untuk berinfestasi, krn pertanian semakin sedikit/langka,” ujarnya.

Dengan mengelola pertanian berbasis usaha tani profesional, seorang petani akan bangga menjadi petani. Petani pun bisa menjadi kaya dengan kemampuan produksi, diversifikasi usaha serta, pengelolaan pertanian berbasis Usaha tani modern. Karena itu, anggaran yang ideal, inovasi yang progresif revolusioner harus segera diarahkan pada sektor pertanian. Jika sektor pertanian bangkit, kecukupan pangan terjaga, budaya lestari dan pariwisata tumbuh berkelanjutan untuk memantik pertumbuhan ekonomi daerah berbasis stabilitas ketahanan pangan yang berkelanjutan. “Jadi saya salut dengan Gubernur untuk menghentikan impor beras, garam dan bawang putih dengan keberpihakan pada sektor pertanian secara absolut. Saya amat sejutu langkah Gubernur menolak impor 10.000 ton beras oleh Bulog Bali karena bali surplus beras. (sar)