Beranda Another Region News Khawatir Terjadi Ketimpangan, Putri Suastini Koster pun Gagas FSBJ

Khawatir Terjadi Ketimpangan, Putri Suastini Koster pun Gagas FSBJ

KOLABORASI – Ny. Putri Suastini Koster saat berkolaborasi dengan Balawan membacakan puisi Agustus.

 

PENIKMAT serial drama klasik era 80-an di layar kaca TVRI Bali, tentu tidak akan pernah lupa dengan sosok wanita yang begitu fenomenal, Ni Putu Putri Suastini. Drama klasik yang banyak mengangkat kisah-kisah Mahabaratha itu telah membius pemirsa hampir satu dekade. Namun Sabtu malam itu (7/11) di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar saat penutupan Festival Seni Bali Jani II, Ni Putu Putri Suastini tidak lagi menjadi pemeran utama pementasan drama. Tetapi, pendamping Gubernur Bali Dr. Ir. Wayan Koster, MM ini membius penonton dan pemirsa lewat puisi ‘’Agustus’’ buah karya Yudhistira ANM Massardi.

Di depan penonton yang digelar secara daring itu, Ni Putu Putri Suastini yang diiringi petikan gitar I Wayan Balawan, Dip.Mus. lewat kata yang sarat makna itu sungguh sedang membangkitkan semangat bahwa mestinya setelah kita dimerdekakan di mana kemerdekaan NKRI itu adalah kita, sudah seharusnya sebagai anak bangsa melakukan hal yang terbaik untuk Tanah Air Indonesia.

Itulah kenapa, ketika Putri Suastini Koster menjadi pendamping orang nomor satu di Bali, ia melihat sedikitnya ruang yang didapatkan buat seni modern baik itu teater, sastra modern, musik dengan segala genrenya. Jika itu dibiarkan, kelak akan terjadi ketimpangan dengan seni tradisi yang sangat disentuh dan diperhatikan.

Putri Suastini memahami betul bahwa Bali kuat akan seni tradisi. Tetapi jangan lupa, talenta anak-anak kita di semua ranah seni sangat kuat. Ide dan gagasan untuk memberikan wahana buat apresiasi seni modern yang disampaikan kepada Gubernur bersama jajarannya pun disambut positif sehingga lahirlah Festival Seni Bali Jani yang kini sudah memasuki tahun kedua.

Jika Pesta Kesenian Bali melestarikan seni tradisi dengan segala inovasi kreativitas senimannya, penulis Trilogi Puisi Merah ini menuturkan Festival Seni Bali Jani adalah sebagai wahana apresiasi seni modern yang dapat memunculkan ide-ide kreatif dan inovatif yang makin menghidupkan kebudayaan Bali di mata dunia menjadi satu peradaban yang dikagumi. Penggagas Festival Seni Bali Jani ini pun kemudian menitipkan dua ajang yang besar ini untuk tetap dijaga dan dirawat lewat kreativitas dari para senimannya

Baca Juga  Modus Penipuan Marak, PT Pegadaian Minta Masyarakat Waspada

Lahir dari orangtua yang bekerja di Bank Pembangunan Daerah Bali, Ni Putu Putri Suastini tinggal di sebuah mes di wilayah Panjer Denpasar. Umur 5 tahun, Putri sudah memasuki bangku sekolah dasar Negeri 1 Panjer. Usia belia masuk SD membuat putri cilik yang lahir di Desa Padangsambian, Denpasar, 27 Januari 1966 ini begitu istimewa.

Melalui guru les tari yang dihadirkan orangtuanya, Putri cilik terus menempa diri hingga bakat menarinya semakin terasah dan bersinar ketika duduk di bangku SMP. Tak cukup mengasah diri di dunia tari Bali, Putri bergabung ke dunia seni drama bersama Teater Kukuruyuk yang menjadi cikal bakal Teater Mini di tahun 1978.

Kesuntukannya memanggung di dunia teater semakin mengakar hingga mendapat kesempatan mengisi acara di layar kaca TVRI Bali.  Beberapa saat duduk di bangku SMA Negeri 1 Denpasar, bersama sahabat yang masih di SMP membangun Teater Angin. Pementasan dalam acara drama remaja teater inilah yang kemudian ditunggu-tunggu anak-anak sekolahan di layar kaca TVRI Bali yang tayang satu bulan sekali.

Dua tahun di SMA, Putri mulai memberanikan diri mengisi drama klasik di TVRI Bali. Serial drama klasik ini pun kemudian menjadi acara favorit bagi semua kalangan baik anak-anak, remaja dan para orangtua hingga tahun 1990. Menukil kisah Mahabaratha, membuat pemirsa merasa dekat. Pesan-pesan moral yang disampaikannya pun begitu cepat melekat.

Ketenaran Putri Suastini di dunia panggung dan layar kaca mengantarkannya mulai banyak mengisi panggung-panggung besar hingga pentas di Gedung Kesenian Jakarta di bawah binaan Sanggar Putih. Dasar tari Bali yang terus diasah didukung olah vokal dan kemampuan membaca puisi membuat Putri Suastini berlabuh ke dunia MC (Master of Ceremony).

Baca Juga  Ketua Umum BKOW Provinsi Bali, Ny. Tjok. Putri Hariyani Buka Sosialisasi Pencegahan KDRT yang Berimplikasi pada Stunting

Keseriusan dan focus seorang Putri dalam menekuni dunia seni menuai segudang prestasi. Ketika kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Putri menyandang gelar juara 1 Tari Tenun se-Universitas Udayana (Unud), hingga dipercaya mewakili Unud untuk Festival Seni Antar-Wilayah di tingkat Kopertis di Banjarmasin dengan membawakan Tari Tarunajaya dan Tari Oleg Tamulilingan dengan memboyong juara.

Di bidang teater ia juga sering mewakili Depdikbud di tingkat Provinsi Bali dan wilayah regional sehingga sering dinobatkan sebagai Pemeran Pemain Putri Terbaik. Putri juga tercatat mengikuti dua kali Lomba Drama Modern di Fakultas Sastra Unud dengan meraih Pemeran Pembantu Terbaik dan Pemeran Wanita Terbaik. Prestasi juara pun tak lepas ketika ikut lomba baca puisi melalui Sanggar Minum Kopi mewakili Depdikbub.

Sederet prestasi yang dicapai juga tak lepas dari dorongan seorang tetangga Ketut Sukanata yang sudah dianggap sebagai kakaknya. Dorongan yang diberikan memicu Putri Suastini bersemangat ikut di berbagai ajang lomba. Di antaranya berhasil menjadi juara pertama Lomba Pidato KNPI Bali serta merebut juara 3 di tingkat nasional. Tahun 1994 ayahandanya pensiun, dan kehidupan Bunda Putri kembali berlanjut di Desa Padangsambian, Denpasar.

Di balik seni yang mengalir di denyut nadinya, Putri ternyata suka berorganisasi. Sejak di bangku SMA ia sudah bergabung di GMNI dan ketika tahun 1983 diterima di Fakultas Ekonomi Unud, ia langsung jadi pengurus Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia. Kiprahnya di organisasi terus berlanjut. Tahun 1987 masuk menjadi pengurus KNPI Provinsi Bali, pengurus Pemuda Pancasila hingga akhirnya tahun 1999 mengantongi kartu tanda anggota (KTA) PDI Perjuangan Kota Denpasar.

Kesibukan di organisasi tidak membuat Putri melupakan dunia panggung. Ia bergabung di Sanggar Suar Agung yang sering tampil hingga 5 kali dalam seminggu di berbagai hotel. Hingga, dalam sebuah acara politik di hotel dimana Putri diminta sebagai MC. Bermula dari secarik kartu nama agar memiliki banyak sahabat dan relasi, justru berujung seorang Wayan Koster yang hadir di acara politik itu jatuh hati.

Baca Juga  Update Covid-19 di Denpasar, Kasus Sembuh Bertambah 29 dan Kasus Positif Bertambah 45

Hubungan asmara jarak jauh pun berlangsung hingga anggota Komisi X DPR RI Dr. Ir. Wayan Koster, MM meminang Ni Putu Putri Suastini pada 24 Desember 1999 di saat usia 33 tahun. Putri pun diboyong ke ibukota Jakarta yang akhirnya menguburkan angan-angannya menjadi anggota Dewan di Denpasar dan juga mulai meredupkan kariernya di dunia seni di Bali.

‘’Bunda tidak menjadi anggota Dewan, tetapi Bunda mendapatkan anggota Dewan,’’ tutur Putu Putri Suastini Koster yang akrab disapa Bunda Putri.

Suntuk berada di ranah seni sejak usia belia baik menari, berteater, bersastra, menyanyi, menulis puisi hingga berorganisasi telah mengantarkan sebagai seniman yang multi talenta. Putri menyebut semua itu adalah Karmany eva dhikaraste maphalesu kadacana. Bekerja terlebih dahulu sesuai dengan kewajiban tanpa mempertimbangkan hasilnya. ‘’Apa yang kamu lakukan fokus pada itu, berikan kebahagiaan ketika kamu bekerja. Tujuan setelah itu hasilnya semestalah yang menentukan,’’ ungkap Bunda Putri dalam satu kesempatan.

Itulah, ketika sang suami menjadi orang nomor satu di Bali, Bunda Putri lebih memilih menjadi pendamping, menjadi ketua TP PKK, walau jika terjun di ranah politik sangatlah terbuka lebar.

Bagi Bunda Putri jabatan sebagai seorang politisi itu berat. ‘’Biar Bapak saja gubernur karena beliau mampu melakukan itu. Bunda bertugas menyeimbangkan dan selalu berdoa untuk suami. Bunda ingin berada di dunia seni, karena seni yang membuat Bunda bahagia, karena apa pun didasari seni akan berhasil,’’ ungkap ibu dua putri Ni Luh Putu Dhita Pertiwi dan Ni Made Wibhuti Bhawani, seraya menekankan apa yang dilakukan selalu dengan penuh tanggung jawab.

Editor N. Sarmawa