bvn/sar
Advisor BI Bali Butet Linda H. Pandjaitan
SEMARAPURA (BALIVIRALNEWS) –
Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS di Bali menunjukkan tren peningkatan. Walau begitu, BI tidak menutup mata dan segera mencari solusi terhadap kendala-kendala pengembangan digitalisasi khususnya pemanfaatan QRIS di Pulau Dewata.
Hal tersebut diungkapkan Advisor BI Bali Butet Linda H. Pandjaitan saat mendampingi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali Erwin Soeriadimadja dan Deputi Kepala BI Provinsi Bali Gusti Ayu Diah Utari dalam acara Ngeraos Sareng Media dan Capacity Building Sahabat Media BI Bali di Nusa Lembongan Klungkung, Kamis (12/9/2024).
Salah seorang wartawan yang ikut dalam kegiatan tersebut mengungkapkan, sejumlah warga masyarakat belum berani sepenuhnya mengandalkan QRIS saat akan bertransaksi. Ada kalanya, ketika akan bertransaksi menggunakan QRIS, merchant belum siap dan warung atau toko-toko belum menggunakan QRIS. “Karena itu, selain menggunakan QRIS, warga tetap membawa uang tunai,” ungkap N. Sarmawa, wartawan Baliviralnews.com tersebut.
Kendala lainnya, ungkapnya, terkait infrastruktur atau jaringan. Ketika akan bertranskasi menggunakan QRIS, sinyal malah tidak ada. Dengan begitu, warga tidak bisa melakukan transaksi. Satu lagi, pengguna QRIS yang sudah berumur berisiko salah tulis jumlah saat bertransaksi dengan QRIS. “Pengguna QRIS berpeluang membayar lebih ketika salah pencet angka,” ungkapnya.
Terhadap hal ini, Butet Linda H. Pandjaitan tak menampiknya. Karena itu, BI Provinsi Bali akan berupaya terus mengembangkan jumlah merchant QRIS di setiap kabupaten/kota di Bali. “Kami akan fokus mengembangkan merchant di tiga kabupaten yakni Jembrana, Klungkung dan Buleleng,” tegasnya.
Selain merchant, pihaknya juga berupaya maksimal untuk mengembangkan pengguna QRIS. Saat ini, pengguna QRIS baru mencapai 1 juta dengan 850.000 merchant. “Kami berharap hingga akhir tahun ini, jumlahnya bisa meningkat,” tegasnya.
Demikian juga dengan infrastruktur, pihaknya akan menggenjot kerja sama atau sinergi dengan pemerintah maupun operator. Dia berharap, tidak ada lagi daerah-daerah yang blank dari sisi jaringan internet. Terhadap kemungkinan salah pencet angka, Linda menyatakan, dengan QRIS justru tercatat. Karena itu, kelebihan dan kekurangannya masih bisa dibicaraka lagi.
Sebelumnya, Butet memaparkan saat ini pengguna QRIS di Bali telah melebihi 1 juta pengguna atau tumbuh 27,6 persen. Demikian pula transaksi QRIS mencapai 7,60 juta transaksi dengan nilai nominal di atas Rp 1 triliun atau tumbuh 137 persen secara yoy.








































