Beranda Bali News Rombongan Capbul Media 2021 Tinjau Dua UMKM Binaan BI Bali di Buleleng

Rombongan Capbul Media 2021 Tinjau Dua UMKM Binaan BI Bali di Buleleng

ist

ALAMI – Pengelola Pagi Motley memperlihatkan pewarnaan alami pada produknya.

 

SINGARAJA (BALIVIRALNEWS) –

Rombongan Capacity Building (Capbul) Media 2021 yang terdiri atas puluhan wartawan media cetak, elektronik, dan online tersebut, Jumat (8/10), meninjau dua usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) binaan Bank Indonesia (BI) Bali. rombongan didampingi Deputi Kepala KPw BI Bali Rizki E. Wimanda dan sejumlah pejabat BI Bali.

Dua usaha yang ditinjau yakni Pagi Motley yang ada di Desa Sembiran Buleleng serta Perajin Tenun Artha Dharma di Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, Buleleng. Kedua pelaku UMKM ini bergerak di bidang tekstil yakni pencelupan serta pewarnaan alami dan produksi kain tenun kombinasi sebagian alami dan sebagian dengan warna kimia.

Karena sesuai dengan tren ramah lingkungan, kedua pelaku UMKM ini tetap eksis bahkan sampai menembus pasar ekspor. Di tengah pandemi covid-19 pun, omzet keduanya pun tak mengalami penurunan drastis.

Owner sekaligus pengelola Pagi Motley Made Andika Putra didampingi sang istri Dewa Ayu Agung Puspita Dewi menyatakan, setelah menjadi binaan Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali ini, pihaknya aktif mengikuti berbagai pameran untuk promosi produk di dalam negeri dan luar negeri untuk menembus pasar ekspor, terutama pasar Amerika dan Eropa.

Katanya, pewarna alami pada kain menjadi karakteristik dari produk-produk fashion Pagi Motley. UMKM yang berdiri sejak tahun 2019 itu konsisten dengan mengolah warna yang terintegrasi dengan bahan baku alam sehingga dilirik konsumen mancanegara. “Kami memiliki pasar di 10 negara, terutama di Amerika maupun Eropa. Namun saat ini, negara-negara di Asia seperti Jepang dan Korea juga menjadi pasar yang menjanjikan,” kata Andika.

Baca Juga  Dipimpin Ponda Wirawan, Komisi III DPRD Badung Gelar Raker dengan Perumdam Tirta Mangutama

Dia menjelaskan, pangsa pasar produk fashion dan bahan baku mulai beralih pada produksi yang berkelanjutan. Kembali ke alam menjadi pilihan para desainer maupun pecinta fashion di negara-negara maju.

“Pagi Motley memang memfokuskan pada pewarnaan alami. Seperti memproduksi warna kuning dari daun mangga, warna hijau dari daun ketapang, warna merah dari kayu secang dan warna cokelat dari serabut kelapa,” ungkapnya.

Andika menuturkan hampir semua bahan alami dari daun bisa dijadikan pewarna. Tetapi dia fokus pada daun yang memang digunakan untuk pakan ternak atau pembungkus pangan yang tersisa.

Usaha yang baru dimulai belum genap setahun itu, ia awali dengan menjaga kepercayaan customer. Data customer ia pegang dengan baik. Ada sekitar 20 customer loyalnya yang sudah bekerja sama dengannya. Paling tidak satu customer memesan 100 meter kain dengan pewarnaan alami di tempatnya.

Selain itu ada beberapa orderan dari Korea yang memiliki toko baju yoga di sana, mengingat dampak covid-19 di Korea tidak terlalu signifikan terhadap ekonomi. “Saat ini omzet dari usaha pencelupannya mencapai Rp 100 juta,” tambah sang istri yang asal Gianyar tersebut.

Produk Artha Dharma yang diminati pasar.

Sementara itu, Ketut Rajin owner usaha Tenun Artha Dharma menyatakan pihaknya tetap mampu mempekerjakan hingga 88 pekerja. “Awalnya, kami hanya ingin melestarikan kain tenun yang merupakan warisan leluhur,” katanya.

Kain endek yang diproduksinya dibuat premium karena menggunakan bahan alami. “Harga endek dengan bahan baku alami 100 persen lebih mahal dari bahan kimia,” ungkapnya.

Usaha kecil yang juga menjadi binaan BI Bali ini mengaku sangat diuntungkan dengan adanya surat edaran Gubernur tentang penggunaan pakaian endek setiap hari Selasa. Dengan SE ini, endek cukup laku karena pegawai swasta pun menggunakan endek.

Baca Juga  Soroti Kasus Kekerasan Anak, Seniasih Giri Prasta Tekankan Pentingnya Ikatan Emosional Orang Tua dan Anak

Selain itu secara nasional pun, kain endek produksinya cukup populer. Karena itu, Rajin mengaku masih kewalahan melayani kebutuhan pasar domestik. Walau belum menyasar pasar ekspor, Rajin mengaku produknya sudah banyak digunakan di luar negeri. “Ini biasanya dibawa oleh ekspatriat yang pulang ke negaranya,” katanya.

Setelah melakukan peninjauan dua UMKM binaan BI Bali, Capbul Media 2021 ditutup dengan Sosialisasi Cinta dan Bangga Rupiah. Penutupan ini diisi dengan doorprize dengan hadiah cukup menarik seperti smart wach, handphone serta dua buah laptop. (sar/bvn)