ist
WISATA SPIRITUAL – Sejumlah warga dari seluruh penjuru Bali saat melakukan wisata spiritual di Panglukatan panacoran solas di Pura Taman Beji Paluh di Banjar Dauh Peken, Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Badung.
MANGUPURA (BALIVIRAL NEWS) –
SEMPAT mendapat renovasi oleh Pemerintah Kabupaten Badung, Taman Beji Paluh yang terletak di Desa Penarungan mulai dikunjungi oleh sejumlah masyarakat yang ingin melakukan pembersihan secara spiritual dengan cara melukan di Pura Taman Beji tersebut. Panglukatan pnacoran solas di kawasan Banjar Dauh Peken, Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Badung ini menyajikan keindahan alam serta dengat dengan atraksi wisata Tubbing di desa tersebut.
sebelum dipugar, Taman Beji Paluh memang sudah ada sejak dahulu kala. “Sesuai cerita turun-temurun, konon pada zaman dahulu, air yang mengucur di Taman Beji Paluh adalah sungai yang mengaliri Tukad Yeh Penet dan Bebengan,” ungkap Kepala Dusun Dauh Peken, I Gede Made Artanegara, Senin (13/5).
Suatu ketika, subak Desa Kapal memerlukan aliran air untuk mengairi persawahan warga. masyarakat pun mencoba mengarahkan aliran mata air dari Desa Penarungan ini ke Desa Kapal. Dimulai dari Banjar Abing yang saat ini dikenal sebagai Banjar Dauh Peken. “Caranya, dibuatkan urukan sebagai pembatas untuk mengarahkan aliran air,” terangnya.
Upaya masyarakat tak mudah. Berkali-kali urukan tanah tersebut jebol. “Nah, konon akibat hal tersebut, ada salah satu anggota masyarakat secara tidak sengaja berikhtiar. Ia memohon kepada penguasa alam. Barang siapa yang datang paling akhir, akan dipakai pakelem atau tumbal agar usaha yang dilakukan berhasil,” ujarnya.
Ternyata hal itu benar-benar terjadi. Suatu ketika, ada seseorang yang datang paling akhir. Ia adalah seorang Pangliman yang bertugas mengatur air. Tiba-tiba ia jatuh dan meninggal saat berjalan di pinggi urukan sungai. “Sejak itu, akhirnya urukan yang dibuat tidak pernah lagi mengalami masalah hingga saat ini,” katanya.
Bekas jebolan urukan sungai tersebut membuat tanah tidak rata atau disebut dengan istilah ‘mapaluh-paluh’. “Hingga kemudian tempat bekas urukan tersebut dikenal sebagai Taman Beji Paluh hingga kini,” ujarnya.
Secara niskala, kata Artanegara, kucuran mata air di Taman Beji Paluh sejak lama dipercaya memiliki khasiat. Khususnya, menyembuhkan berbagai penyakit nonmedis. Misalnya, penyakit mata dan kulit. Awalnya, kucuran mata air di Taman Beji Paluh ada lima. Itu sebabnya disebut Pancoran Lima. “Penduduk lokal biasanya menggunakannya untuk panglukatan atau pembersihan diri dari segala unsur dasamala. Khususnya untuk kesehatan, kucuran air di Pura Taman Beji Paluh dipercaya secara turun-temurun berkhasiat untuk memberikan kesembuhan penyakit mata dan kulit,” jelasnya.
Nah, saat penataan yang didanai Pemerintah Kabupaten Badung pada 2018 lalu, dibangunlah Pancoran Sebelas atau Solas dari sumber mata air yang sama. Proyek dengan nama Penataan Taman Beji dan Jalan Tracking Desa Wisata Penarungan tersebut digelontor Rp 14.870.064.000. “Itu untuk memberikan kesempatan dan kemudahan pada masyarakat yang lebih luas untuk melakukan penglukatan,” terangnya.
Adapun Pancoran Lima terdiri dari Pancoran Brahma, Wisnu, Siwa, Rudra dan Sambu. Sedangkan Pancoran Solas di antaranya terdiri dari Toya Ning, Tirta Gangga, Toya Panglukatan, Toya Pembersihan, Toya Pamrastita, Toya Pangleburan, Toya Pangening-ening, Toya Panyejer, Toya Sudamala, dan Toya Pangentas.
Mengenai pengelolaan, destinasi yang juga menawarkan jogging track serta river tubing tersebut, di bawah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Penarungan. “Pengelolanya Pokdarwis berdasar SK Perbekel,” tandas Artanegara.
Sementara tokoh masyarakat Desa Penarungan, Wayan Suyasa mengucapkan terima kasih terhadap Pemerintah Kabupaten Badung yang telah membantu penataan pura taman beji ini. “Hal ini atas kesepakatan masyarakat Desa Penarungan dengan komitmen untuk membangun desanya sebagai desa wisata. Saya selaku wakil rakyat berupaya menjembatani kebutuhan masyarakat untuk membangun potensi desa di Desa Penarungan dan syukur renovasi pura ini sudah rampung oleh pemerintah,”ujar Suyasa yang juga Ketua Komisi I DPRD Badung tersebut.
Edited by Wes Arimbawa









































