bvn/sar
BERIKAN MATERI – Salah satu narasumber memberikan materi pada workshop bagi kalangan wartawan yang digelar Kantor Perwakilan BEI Bali, Jumat (31/7/2026).
DENPASAR (BALIVIRALNEWS) –
Kantor Wilayah Bali PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (31/7/2026) menggelar workshop bagi wartawan di daerah Bali dan berlangsung di ruang pelatihan Kantor Perwakilan BEI Bali di bilangan Renon Denpasar. Workshop yang diikuti sekitar 40 wartawan dari berbagai media baik cetak, elektronik maupun online tersebut menampilkan dua narasumber yang membahas update Pasar Modal dan Investasi di Produk ETF.
Kepala Perwakilan BEI Bali Gusti Agus Andiyasa mengungkapkan, per Juni 2026, jumlah investor saham di Bali tercatat 210.212 orang. “Jumlah ini bertumbuh sebesar 24.719 orang atau 13.3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” ujarnya.
Sementara itu, untuk investor pasar modal (SID All) secara keseluruhan berupa saham, obligasi, reksadana dan produk turunannya di Bali tercatat 425.369 investor. “Angka ini bertumbuh sebesar 65.884 investor baru atau kurang lebih 18,3 persen dari tahun sebelumnya,” ujarnya lagi.
Secara demografis, katanya, investor terbanyak ada di Kota Denpasar dengan 34,7 persen, disusul Badung 19,1 persen dan Buleleng 10,7 persen. Sementara investor lainnya berasal dari kabupaten lainnya di Bali seperti Klungkung, Karangasem, Gianyar, Bangli, Jembrana, dan Tabanan.
Ditanya soal peluang pemerintah daerah di Bali untuk menerbitkan obligasi daerah dalam pembiayaan pembangunan, Gusti Agus Andiyasa menyatakan sangat berpeluang. “Salah satu syaratnya tentu saja harus ada kesepakatan antara pimpinan daerah (baik gubernur, bupati dan walikota) dengan legislatif atau DPRD-nya,” ungkapnya.
Dia menilai, penjualan obligasi daerah tentu saja sangat menguntungkan bagi daerah. Daerah akan memperoleh dana segar yang bersumber dari masyarakat sendiri. “Bunga obligasi daerah juga akan dinikmati oleh masyarakat di daerah masing-masing,” ungkapnya lagi.
Karenanya, dia mendorong daerah untuk menjual obligasi daerah dalam rangka percepatan pembangunan. “Keuntungannya kembali kepada masyarakat. Pembangunan jalan misalnya tentu saja masyarakat akan menikmati, sementara bunga yang dikucurkan pemerintah juga dinikmati masyarakat,” katanya.
Dia juga menyatakan, berapa pun pemerintah menerbitkan obligasi pasti akan diminati masyarakat karena masyarakat pasti percaya kepada pemerintahnya. Dia mencontohkan, ORI yang dicetak pemerintah pusat selalu diminati masyarakat Indonesia. “Selalu diminati,” ujarnya sembari menambahkan, soal jangka waktu tentu saja sesuai kesepakatan yang dibuat. (sar)







































